Home » Featured » 5 Film Untuk Memperingati Hari Pers Nasional

5 Film Untuk Memperingati Hari Pers Nasional

Written by Rasyid Baihaqi

press-movies-recommendations-med

Setiap tanggal 9 Februari, kita memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Keputusan Presiden Soeharto tersebut menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan yang penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Ironinya, pemerintah orde baru juga memberlakukan Surat Izin Penerbitan Pers (SIUPP) yang membatasi ruang gerak insan pers dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya.

Dalam menjalankan kegiatannya, para jurnalis kerap menghadapi berbagai tantangan mulai dari memverifikasi ulang banyaknya data dalam waktu singkat hingga menerima teror dan ancaman pembunuhan. Sudah banyak jurnalis yang menjadi korban pembunuhan seperti Fuad Muhammad Syafruddin (jurnalis Bernas), Ersa Siregar (jurnalis RCTI), Anak Agung Prabangsa (jurnalis Radar Bali) dan masih banyak lagi. Di antara kasus pembunuhan jurnalis tersebut banyak yang belum tuntas diselesaikan hingga hari ini.

Kegigihan para jurnalis dalam mengemban tugasnya sebagai pilar keempat demokrasi pun banyak yang menghasilkan karya jurnalistik berkualitas. Misalnya Bondan Winarno yang menuliskan liputan investigasinya mengungkap skandal emas busang dalam buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi atau Metta Dharmasaputra yang menceritakan kisah peliputannya membongkar skandal pajak terbesar di Indonesia dalam Saksi Kunci.

Sayangnya hingga saat ini belum ada kisah jurnalis Indonesia yang diadaptasi menjadi film fiksi panjang. Jadi kita tunggu saja apakah ada sineas yang berani mengangkat salah satu kisah jurnalis ke layar lebar. Sambil menunggu, mari memperingati Hari Pers Nasional 2019 dengan menonton lima film yang dibuat berdasarkan kisah nyata dalam lima tahun terakhir. Kelima lima film pilihan ini diurutkan berdasarkan tahun edarnya. Sementara untuk memilih film yang terbaik, kami serahkan pilihannya padamu!

Kill the Messenger (2014)

Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata Gary Webb, seorang jurnalis surat kabar San Jose Mercury News yang berhasil membongkar keterlibatan badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) dalam peredaran narkoba jenis kokain di AS pada 1980-an. Ia menuliskan hasil investigasinya tersebut ke dalam serangkaian tulisan yang berjudul “Dark Alliance” pada 1996. Namun sejumlah pihak menganggap pelaporan Webb itu sebagai teori konspirasi, bahkan pihak San Jose Mercury News pun sampai menarik dukungan dari jurnalisnya tersebut.

“Reaksi dari serangkaian tulisan ‘Dark Alliance’ membuktikan bahwa Gary Webb melakukan sesuatu yang benar. ‘Mengacak-acak bulu, itulah jurnalisme investigasi yang baik,’ mengutip perkataan Gary. Namun saat Mercury News tidak mendukungnya, itulah pengkhianatan yang menghancurkannya. Berbeda dengan Ben Bradlee yang didukung penuh Woodward dan Bernstein dalam investigasi kasus Watergate di Washington Post pada 1970-an,” ujar Jeremy Renner yang terlibat sebagai aktor dan produser dalam Kill the Messenger.

Truth (2015)

Truth berkisah mengenai Mary Mapes, seorang produser acara televisi yang menghadapi serangkaian masalah setelah penayangan acaranya yang berusaha mengungkap perlakuan istimewa yang diterima George W. Bush selama masa militernya. Pasca penayangannya pada 2004, Mapes dan pembawa acaranya, Dan Rather menghadapi berbagai pertanyaan tentang keakuratan dokumen Kilian yang menjadi landasan acara tersebut. Pasalnya dokumen itu bermasalah karena karakteristiknya mengindikasikan dibuat dengan Microsoft Word.

Menjelang akhir film, ketika Mapes berbicara dengan Rather melalui sambungan telepon sambil bersandar di rak buku di rumahnya. Di rak buku tersebut tampak buku otobiografi editor legendaris Washington Post Benjamin C. Bradlee yang berjudul A Good Life. Bradlee merupakan editor Washington Post saat menguak skandal Watergate dan juga menangani kericuhan yang dibuat oleh jurnalisnya, Janet Cooke saat mengarang cerita bohong mengenai pemuda pecandu narkoba. Laporan tersebut berhasil mendapatkan penghargaan Pullitzer pada 1981 yang akhirnya dikembalikan.

True Story (2015)

Michael Finkel, seorang jurnalis yang baru saja diberhentikan dari The New York Times karena bermasalah saat peliputan terakhirnya di Afrika, menjadi figur sentral di film ini. Lalu pada suatu hari Finkel menerima telepon dari seseorang yang memberitahunya mengenai Christian Longo, seorang pria yang mengagumi Finkel sampai menggunakan identitasnya. Longo sendiri merupakan tahanan yang ditangkap atas tuduhan pembunuhan istri dan ketiga anaknya. Demi mengembalikan nama baiknya, Finkel ingin menuliskan kisah Longo, sedangkan Longo sendiri ingin memanfaatkan Finkel.

“Ada hubungan yang aneh antara kebenaran dan fiksi, baik dalam seni tetapi juga dokumenter dan jurnalisme. Ada banyak kejahatan, tetapi juga kehadiran jurnalis dengan seorang penjahat. Rasanya sangat relevan sekarang. Saya cukup tertarik dengan wilayah itu,” ujar Rupert Goold kepada The Oregonian mengenai ketertarikannya membuat True Story. Sementara itu James Franco yang memerankan tokoh Christian Longo mengatakan kepada Reuters bahwa Longo mungkin orang paling jahat yang pernah diperankannya.

Spotlight (2015)

Spotlight menceritakan kisah nyata para jurnalis yang tergabung dalam tim Spotlight, sebuah tim investigasi di koran Boston Globe. Mereka ditugaskan oleh pemimpin redaksi mereka yang baru, Marty Baron, untuk menyelidiki kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastur Katolik kepada anak-anak di Boston. Walter Robinson memimpin tiga orang jurnalis, yaitu Mike Rezendez, Sacha Pfeiffer, dan Matt Caroll, dalam penyelidikan tersebut. Ternyata kasus yang mereka selidiki juga menyebar di berbagai kota dan telah terjadi sejak lama.

Film yang berhasil meraih dua penghargaan Oscar untuk film terbaik dan skenario asli terbaik tahun 2016 ini pun tidak lepas dari kritik. “Secara keseluruhan, menurut saya film ini keliru dalam merepresentasikan bagaimana gereja menangani kasus pelecehan,” ujar David F. Pierre Jr. dalam salah satu artikel New York Times. Ia mengatakan bahwa kelemahan terbesar film ini adalah kegagalannya dalam menggambarkan para psikolog yang meyakinkan para pejabat gereja bahwa para pastur yang melakukan kekerasan bisa kembali bertugas setelah mendapatkan perawatan.

The Post (2017)

Jika film lain tentang pers biasanya menyorot tentang sisi para wartawannya, The Post lebih menyorot Katharine Graham, pemilik koran The Washington Post dan penerbitnya. Graham terkenal akan hubungan profesionalnya dengan Ben Bradlee, editor surat kabar tersebut yang terlibat dalam pengambilan keputusan untuk menerbitkan laporan mengenai Pentagon Papers yang berisi rahasia negara soal Perang Vietnam pada 1970an, yang menjadi topik cerita di film ini. Namun rencana mereka merilis laporan tersebut terancam oleh perintah federal yang bisa membuat mereka semua didakwa karena membuat kontroversi. Graham harus memutuskan antara tetap maju untuk menerbitkan dan memperjuangkan kebebasan pers atau malah mundur demi keamanan perusahaan dan relasinya dengan pemerintahan.

Penulis skenario, Liz Hannah mengatakan bahwa skenario The Post yang berlatar tahun 1970-an masih relevan dengan situasi Amerika Serikat saat ini. “Tidak masalah bahwa pada 1971 (jurnalis) tidak mempunyai telepon seluler, Anda masih berurusan dengan pengkhianatan, etika Anda sendiri, gagasan Anda mengenai diri Anda sendiri,” ujar Hannah kepada Vanity Fair saat ditanya perbandingan jurnalis di skenarionya dengan praktik jurnalis saat ini. Hal tersebut juga menjadi daya tarik skenario yang ditulisnya hingga mendapat perhatian dari sang sutradara, Steven Spielberg, dan kedua pemainnya, Tom Hanks dan Maryl Streep.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest