Home » Featured » Black History Month Special – Part 1

Black History Month Special – Part 1

Written by Fariz Budiman

Gerakan BHM

Menyambut Black History Month yang diperingati setiap Februari di Amerika Serikat dan Kanada, dan setiap Oktober di Inggris, Irlandia dan Belanda untuk mengenang sejarah diaspora masyarakat Afrika, selama sebulan ini kami akan menyuguhkan total sembilan rekomendasi film-film yang sangat layak ditonton untuk memperingati bulan bersejarah dan berpengaruh dalam Black Movement Amerika serta dunia ini.

Selma (2014)

Selma 2

Story:

Bercerita tentang aksi damai dari para aktivis yang menuntut hak konstitusional untuk memilih dalam pemilihan umum di tahun 1965. Para aktivis yang antara lain dipimpin oleh Martin Luther King. Jr ((David Oyelowo) ini melakukan aksi long march sepanjang 87 kilometer, berjalan dari kota Selma, menuju ibu kota negara bagian Alabama, Montgomery. Tentu saja perjuangan mereka penuh dengan halangan dan rintangan. Walaupun mereka mengkampanyekan gerakan anti kekerasan, tapi mereka mendapat perlawanan yang sangat sengit dari apparat kemanan setempat.  Setelah berjalan dan berjuang, akhirnya pergerakan mereka membuahkan hasil yang sangat manis.

Facts:

David Oyelowo berjuang sangat keras selama 7 tahun untuk mendapatkan peran sebagai Martin Luther King. Jr., sejak Lee Daniels masih menjabat sebagai sutradara film ini. Akhirnya Daniels digantikan Ava DuVernay, yang berhasil meyakinkan para produser untuk menggunakan jasanya sebagai sutradara.

Aftermath:

Dengan menitikberatkan pada ketidakadilan rasial, pergerakan ini memiliki kontribusi dalam pengundangan Voting Rights Act di tahun yang sama. Undang-undang ini melarang adanya diskriminasi ras dalam pemilihan umum. Peristiwa ini dianggap sebagai pencapaian penting dalam pergerakan masyarakat sipil Amerika.

Malcolm X (1992)

Malcolm X

Story:

Kisah hidup Malcolm Little (Denzel Washington) yang namanya berubah menjadi Malcolm X. Malcolm adalah aktivis hak asasi manusia dan juga aktivis kulit hitam muslim. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh kulit hitam Amerika yang paling hebat dan paling berpengaruh. Masa kecil Malcolm tidak jauh dari dunia kriminal. Ayahnya dibunuh, sedangkan ibunya mengalami gangguan jiwa. Saat usianya 20 tahun, ia dijebloskan ke penjara. Saat di penjara, ia mengenal Nation of Islam. Film ini merangkum semua hidupnya, mulai dari kecil sampai akhir hayatnya.

Facts:

Film ini didukung oleh beberapa orang penting dalam hak asasi kulit hitam. Beberapa orang yang tampil sebagai cameo adalah co-founder Black Panther Party, Bobby Seale, aktivis Al Sharpton dan juga orang yang nantinya akan menjadi presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Denzel Washington sendiri menyumbangkan seluruh bayarannya agar film ini bisa diproduksi.

Aftermath:

Tiga orang didakwa dan dijatuhi hukuman penjara karena bersalah telah membunuh Malcolm. Hanya satu orang yang mengaku bersalah, yaitu Talmagde Hayer, dua orang lainnya mengaku tidak bersalah, tapi vonis untuk ketiganya sama, penjara seumur hidup. Malcolm sendiri dikenang sebagai orang yang mampu menaikkan kepercayaan diri orang kulit hitam serta berpengaruh dalam menyebarkan agama Islam ke kalangan kulit hitam Amerika.

12 Years a Slave

12 years 2

Story:

Kisah Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor), seorang pria kulit hitam kelahiran New York yang diculik oleh dua penipu lalu dijual sebagai budak di bagian selatan Amerika Serikat. Ia bekerja di perkebunan kapas di Louisiana selama 12 tahun. Di perkebunan ini, ia berteman dengan Patsey (Lupita Nyong’o), budak yang sering disiksa dan diperkosa oleh tuannya, Epps (Michael Fassbender).

Facts:

Chiwetel Ejiofor mempersiapkan diri untuk berperan sebagai budak dengan cara mengunjungi perkebunan kapas di Louisiana dan belajar memainkan biola. Sementara debut Lupita Nyong’o di film ini membuahkan hasil yang manis, ia meraih Oscar untuk kategori Best Supporting Actress di ajang Academy Awards 2014. Selain itu, film ini juga meraih Best Picture dan juga Best Adapted Screenplay.

Aftermath:

Setahun setelah kembali menghirup udara bebas, Northup menulis sebuah memoir tentang pengalamannya menjadi budak di selatan. Ia banyak melakukan pidato tentang pengalamannya, membangun momen untuk protes melawan perbudakan. Ia juga mencoba menempuh jalur hukum bagi orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya. Sayangnya upaya ini gagal, orang-orang yang bertanggung jawab lolos dari jerat hukum.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest