Home » Featured » Buttonijo Films Siap Rilis 22 Menit Pada Juli Mendatang

Buttonijo Films Siap Rilis 22 Menit Pada Juli Mendatang

BTS 7

Masih ingat peristiwa ledakan bom di depan Sarinah Thamrin, Januari 2016 lalu? Kejadian yang mengharu biru warga ibukota ini diadaptasi ke layar film oleh sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita Pohan. Film yang berjudul 22 Menit ini akan dirilis serentak di bioskop tanah air pada 19 Juli mendatang.

“Film ini kami buat untuk menggambarkan keberanian dan juga ketahanan bangsa Indonesia dalam menghadapi serangan teroris,” kata Eugene, sang sutradara dalam peluncuran official trailer filmnya di Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis (7/6).

Melalui proyek yang dibuat oleh oleh rumah produksi Buttonijo Films ini, Eugene ingin menyodorkan cerita tentang orang-orang yang terkena dampak serangan teroris. Karakter utamanya adalah Ardi (Ario Bayu), seorang polisi yang juga anggota unit anti terorisme. Meski risiko pekerjaannya tinggi, Ardi teguh dan sabar menjalani harinya. Namun dia tidak pernah absen mengantar anak perempuannya ke sekolah sebelum bertugas. Pada suatu pagi, terjadi ledakan bom di pusat kota. Dalam suasana genting, Ardi harus siaga demi mengamankan ibukota. Ternyata dalam tempo 22 menit, semua bisa diatasi.

Film ini diperkuat oleh Ade Firman Hakim, Fanny Fadillah, Ence Bagus, Ardina Rasti, Hana Malasan, Taskya Namya, dan Mathias Muchus. Sedangkan skenarionya ditulis oleh Muhammad Husein.

Berdurasi 100 menit, film ini menyuguhkan aksi mendebarkan. Sebut saja mulai dari adegan bom meledak, baku tembak di tengah jalan hingga aksi berbahaya turun dari helikopter.

Seriusnya Buttonijo dalam menggarap film ini ditunjukkan lewat kerja keras tim produksi pimpinan Lexy Mere dalam berkomunikasi dengan pihak kepolisian demi akurasi.“Kami ingin film ini juga bisa menggambarkan kecanggihan fasilitas yang dimiliki oleh polisi Indonesia. Selama ini, kemajuan teknologi yang mereka punya tidak diketahui banyak orang,” jelas Myrna yang sempat melakukan riset di Polda Metro Jaya.

Satu hal yang coba digambarkan Lexy selaku produser film ini adalah penumpasan aksi terorisme ternyata mengandalkan kontribusi masyarakat luas.“Polisi tidak bisa sendiri saja menumpas teroris. Laporan dan kerjasama dari masyarakat sangat dibutuhkan agar polisi bisa menjalankan tugasnya. Melalui film ini, kami ingin juga mengingatkan bahwa kita semua harus bisa saling bahu-membahu menjaga kesatuan Republik Indonesia,” kata Lexy. BB

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest