Home » Featured » Captain Marvel – Review

Captain Marvel – Review

Born among the stars

All Film Star Rating 8

captain-marvel-review

Ketika logo Marvel Studios dengan lagu fanfare-nya main di awal Captain Marvel, siapapun yang menonton film garapan Anna Boden dan Ryan Fleck di bioskop ini pasti langsung terbawa suasana. Pasalnya, logo Marvel Studios kali ini menampilkan sederetan foto dan klip almarhum Stan Lee, yang juga melakukan salah satu cameo terakhirnya di film ini sebelum meninggal. Dengan opening seperti ini, seakan-akan mood kita dibawa untuk menanggapi film debut Brie Larson sebagai superhero wanita pertama Marvel yang mendapat film solo.

Tapi kisah Carol Danvers dan perjalanannya menjadi superhero yang dikenal sebagai Captain Marvel itu tidak suram atau perlu keseriusan tertentu. Justru Carol yang di awal film kita kenal dengan julukan ‘Vers’ muncul sebagai sosok yang, walaupun temperamental, cukup santai dan suka bercanda secara sarkastis. Menjadi petarung elit di tim Starforce milik bangsa alien Kree di planet Hala, Carol satu-satunya anggota yang tidak sombong atau angkuh. Ia mungkin tidak punya waktu untuk menyombong, karena ia sibuk dihantui oleh mimpi-mimpi buruk yang bisa jadi kenangan masa lalunya.

Masa lalu Carol kemudian terkuak sebagai hal yang diincar oleh musuh bangsa Kree, yaitu para Skrulls yang merupakan musuh bebuyutan mereka. Setelah diculik oleh kawanan Skrulls yang dipimpin oleh Talos, Carol tiba-tiba menemukan dirinya di Bumi, berhadapan dengan S.H.I.E.L.D. di era awal berdirinya organisasi tersebut, dan segera berpasangan dengan Nick Fury muda untuk menyelidiki apa yang diinginkan para Skrulls, sekaligus menguak masa lalunya.

Walaupun para filmmakers-nya enggan menyebut Captain Marvel sebagai sebuah origin story, film ini – dengan naskah yang sudah banyak berpindah tangan – tetap merupakan sebuah kisah origin yang tulen. Settingnya di pertengahan tahun 1990an membuat film ini juga menjadi prekuel bagi jajaran film di Marvel Cinematic Universe. Ini berarti penonton berada dalam posisi unik: mereka tahu lebih banyak tentang universe ini daripada tokoh-tokohnya. Maka itu sedikit sulit menjual film ini sebagai film berkonsep fresh karena banyak unsurnya sudah diketahui.

Untungnya penampilan Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury muda – berkat teknik de-aging CGI yang sempurna – membuat kita bisa tertawa bahkan saat hal-hal yang sudah familiar itu muncul lagi dan ditampilkan sebagai hal baru. Hampir tidak ada jejak dari Nick Fury era Iron Man dan The Avengers di penampilan Jackson sebagai comic relief film ini. Ekspresi wajah Jackson tampil secara nyata dan tulus, tanpa gangguan dari proses CGI untuk membuatnya lebih muda itu. Aman untuk dikatakan bahwa Jackson-lah MVP dari Captain Marvel. Baik saat ia takjub menanggapi aksi Carol yang unik maupun saat ia sok imut dalam berinteraksi dengan si ‘kucing’ Goose, Jackson paling menghibur di sepanjang film.

Larson pun solid, walaupun agak sulit untuk menyukai karakter Carol ini pada awalnya. Mungkin karena Carol sendiri tak ingat siapa dirinya, sifat aslinya dan sisi heroiknya tidak terpancar sampai akhirnya ia menemukan jalannya pulang. Saat Carol bertemu dengan sosok lama dari masa lalunya, rekan pilot Maria Rambeau milik Lashana Lynch, barulah kita bisa memahami motivasi di balik ketangguhan karakter ini. Dinamika antara Carol dan Maria menarik karena inilah sepertinya alasan mengapa Captain Marvel dibuat dan ditunggu-tunggu: ini gambaran hubungan suportif antara dua wanita dalam sebuah dunia di mana maskulinitas mendominasi. Carol seakan-akan tak bisa menjadi hero tanpa ada dorongan dari Maria, yang sangat terluka ketika Carol hilang dari hidupnya, dan Maria menemukan kekuatan baru dalam dirinya setelah ia kembali menemukan Carol. Sayangnya hal ini agak terkubur di dalam gemerlap action superhero tipikal yang biasa kita temukan di film-film jenis ini. Butuh waktu dan kesabaran untuk menemukan ‘jiwa’ Carol Danvers yang sesungguhnya.

Karena itu jangan heran jika film terasa berjalan lambat di awal dan baru mulai memanas di tengah. Baru di babak ketiga, saat Marvel dan para filmmakers memutarbalik semua yang kita tahu tentang bangsa Kree dan Skrulls dari komiknya dengan twist yang luar biasa (terutama bagi para pembaca komiknya), film ini bisa keluar dari stagnasi. Jika alur di awal dan tengah film mengalir dengan sedikit tersendat, klimaksnya meluap bagaikan banjir energi yang tidak tertahankan. Kurang lebih sama seperti bentuk final Captain Marvel yang akhirnya terlahir: cepat, keras dan bercahaya.

Sebuah kalimat dari film ini tetap terngiang sampai film usai. Carol, di saat di mana ia akhirnya menumbangkan musuhnya, berkata, “Aku tidak harus membuktikan diriku padamu.” Pada intinya, itulah Captain Marvel. Ia melakukan apa yang harus dilakukan, bukan karena ia mencari pembuktian, tapi karena itu adalah hal yang benar. Dan superhero semacam ini sangat kita butuhkan di dunia nyata. Amanda Aayusya

Nutshell… Awalnya agak pelan dan membosankan, Captain Marvel akhirnya terbang melampaui batasan ekspektasi kami dengan menampilkan beberapa karakter perempuan yang menawan, Nick Fury yang kocak dan twist besar yang aneh tapi tetap masuk di akal.

Rating PG-13 DirectorsAnna Boden, Ryan Fleck Screenplay A. Boden, R. Fleck, Geneva Robertson-Dworet, Meg LeFauve, Nicole Perlman Cast Brie Larson, Samuel L. Jackson, Ben Mendelsohn, Jude Law, Lashana Lynch, Clark Gregg Running time 124 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest