Home » Featured » Dunkirk – Review

Dunkirk – Review

Home came to get them

All Film Star Rating 9

dunkirk-review

Misteri thriller, superhero komik dan fiksi ilmiah sudah pernah ia jajal, jadi kenapa tidak kali ini Christopher Nolan menyelam ke sejarah dunia nyata dan mengangkat satu lagi porsi cerita dari Perang Dunia 2? Dunkirk, film terbaru sutradara Inception dan trilogi The Dark Knight, menjauhi semua yang berbau sensasi, fantasi atau fiksi. Ini adalah film hyper-real di mana ia meminta para aktor dan krunya mensyut film dalam kondisi mirip peperangan yang sebenarnya demi menciptakan atmosfer bertegangan tinggi yang meliputi seluruh film.

Bercerita tentang operasi penyelamatan tentara Sekutu dari pantai Dunkirk, Prancis, Nolan mengajak kita bukan untuk mengamati tapi merasakan gentingnya suasana saat itu ketika para prajurit Inggris – seperti Tommy (Fionn Whitehead) – menunggu kapal yang tak kunjung datang untuk menjemput mereka. Dari seberang Selat Inggris, ‘rumah’ sudah terlihat dan terasa dekat tapi perjalanan mereka masih panjang. Kurangnya jumlah kapal membuat prajurit berbaris tanpa bisa berbuat apa-apa, menghadapi air pasang dan ancaman serangan dari udara. Dari sisi kota, musuh telah mengepung. Bahkan mereka yang sudah mulai berlayar di kapal belum tentu selamat: serangan rudal bisa membelah kapal kapanpun, sehingga mereka harus berenang kembali menuju pantai dan mencari cara lain untuk pulang.

Jangankan melihat visual yang dilensakan dengan dramatis oleh Hoyte van Hoytema untuk menggarisbawahi suramnya kondisi mereka; kepasrahan di wajah-wajah Whitehead, Harry Styles dan Aneurin Barnard sudah langsung bisa langsung menguji nyali kita. Ke mana pun Nolan mengajak kita – kapal, pantai, dermaga, perahu, pesawat – ketegangan tidak pernah turun.

Aerial shots menakjubkan yang tak ada duanya mengajak kita melihat aksi di udara dari pilot-pilot Spitfire yang dikemudikan oleh Farrier (Tom Hardy), Collins (Jack Lowden) dan rekan mereka. Ini satu lagi contoh superioritas Nolan dalam teknik filmmaking-nya tapi dipadukan dengan scoring Hans Zimmer dan efek suara yang berlapis, film ini menjadi semakin menyesakkan. Semua ini akan menjadi sempurna apabila tidak muncul dampak yang nyata pada penonton, yaitu motion sickness. (Ini kami rasakan sendiri di bioskop IMAX, sehingga kami ingin menyarankan agar penonton memilih tempat duduk dengan bijak dan mempersiapkan diri untuk rasa mual dan pusing yang bisa timbul.)

Tidak ada ruang untuk melarikan diri di bawah tekanan audio dan visual Nolan dan krunya: kita benar-benar hidup di momen cerita yang tetap memikat secara naratif meskipun plotnya sederhana. Tidak seluruh film terasa depresif karena heroisme yang kita tunggu-tunggu tetap datang. Lucunya, para pahlawan di cerita ini justru bukan prajurit atau anggota militer manapun, melainkan para warga sipil yang datang dari Inggrs dengan kapal-kapal pribadi mereka untuk menjemput tentara yang terdampar. Seperti Mr. Dawson (Mark Rylance) yang menjawab panggilan bantuan itu bersama anaknya Peter (Tom Glynn-Carney) dan temannya George (Barry Keoghan). Terlibat drama di tengah perairan bersama Shivering Soldier milik Cillian Muprhy, Dawson-lah hati dan jiwa film ini, seakan-akan ingin mengatakan, “We’re in this together.

Kalau kita bertanya-tanya, mengapa perlu ada lagi film tentang Perang Dunia 2, Dunkirk memberikan kita jawabannya. Karena pengorbanan dan kebersamaan tidak memiliki batas waktu dan akan selalu menarik untuk diketahui lagi dan lagi. Amanda Aayusya

Nutshell… Dunkirk merangkul kita dengan kuat dan tak akan terlupakan. Meskipun ceritanya sederhana, dibuatnya adalah dengan penuh kecermatan dan kecerdasan. Bisa jadi, ini film terbaik Christopher Nolan.

Rating PG-13 Director Christopher Nolan Screenplay Christopher Nolan Cast Fionn Whitehead, Aneurin Barnard, Harry Styles, James D’Arcy, Kenneth Branagh, Tom Hardy, Jack Lowden, Mark Rylance, Tom Glynn-Carney, Barry Keoghan, Cillian Murphy Running time 106 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest