Home » Featured » Film Musik Makan 2019: Perayaan Film Alternatif

Film Musik Makan 2019: Perayaan Film Alternatif

film-musik-makan-2019

Bila kalian menunggu pemutaran perdana film-film alternatif, Film Musik Makan (FMM) adalah acara yang wajib kalian datangi. Sejak 2014, Kolektif rutin mengadakan Film Musik Makan, sebuah konsep acara yang menggabungkan pemutaran film dengan penampilan musik dan penjualan makanan sesuai namanya. Film Musik Makan 2019 berlangsung pada Sabtu, 9 Maret 2019 di Goethe Haus, Menteng, Jakarta.

Film Musik Makan setiap tahunnya selalu menghadirkan film-film alternatif yang berjaya di ajang festival internasional, baik panjang atau pendek; fiksi atau dokumenter. Kolektif selaku penyelenggara acara memang bertujuan menginisiasi pemutaran dan distribusi film alternatif. Setelah FMM selesai, film-film di bawah naungan Kolektif juga akan didistribusikan ke komunitas-komunitas di seluruh Indonesia.

Acara dimulai dari pukul 10.00 WIB dengan diskusi mengenai peran film pendek dalam perkembangan film di Indonesia yang diisi oleh Meiske Taurisia (produser), Ifa Isfansyah (produser/sutradara) dan Aditya Ahmad (sutradara). Para pengunjung pun sejak pagi mulai memadati lokasi acara. Memasuki Goethe Haus, pengunjung bisa melihat pameran poster FMM dari tahun ke tahun dan poster film-film yang sedang diputar. Lalu di area belakang, sudah tersedia Kata Kopi, Nasi Pedes Cipete, dan Roast Beef Iponxonik.

Parade film pendek dan panjang, sepanjang hari

film-musik-makan-2019-02-photo-rb

Setelah diskusi acara dilanjutkan dengan pemutaran kompilasi film pendek yang terdiri dari lima film fiksi, yaitu Kado karya Aditya Ahmad yang sukses membawa pulang trofi film pendek terbaik Venice International Film Festival 2018. Lalu ada Ballad of Blood and Two White Buckets karya Yosep Anggi Noen yang diputar pada salah satu program di Toronto International Film Festival 2018. Selain itu ada Kembalilah dengan Tenang karya Reza Fahriyansyah yang belum lama ini ditayangkan di Clermont-Ferrand Film Festival 2019.

Sementara itu diputar juga film pendek terbaru dari sutradara Ismail Basbeth berjudul Woo Woo yang merupakan interpretasinya akan lagu Sore berjudul sama. Dan yang terakhir ada film pendek bertajuk Dan Kembali Bermimpi garapan Jason Iskandar yang terinspirasi puisi buatan Leon Agusta. Dua film pendek tersebut merupakan hasil dari buah tangan sutradara yang tahun lalu karyanya juga diputar di FFM, yaitu Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran (Ismail Basbeth) dan Elegi Melodi (Jason Iskandar).

Untuk film panjangnya, tahun ini Film Musik Makan menyajikan film terbaru Kisah Dua Jendela karya Paul Agusta yang sebelumnya diputar pertama kali di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2018. Selain itu ada Asian Three Folds Mirror: Journey karya tiga sutradara asia: Dagena Yun (Tiongkok), Daishi Matsunaga (Jepang), dan Edwin (Indonesia). Film omnibus tersebut merupakan sebuah produksi kolaborasi antara Japan Foundation dan Tokyo International Film Festival. Setelah film selesai, Edwin (sutradara) dan Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy (produser) turut ikut berdiskusi mengenai film hasil kolaborasi tersebut.

Terakhir setelah matahari terbenam, penonton kembali berkumpul di ruang auditorium untuk menyaksikan film pendek Rising from Silence karya Shalahudin Siregar. Film pendek yang bercerita mengenai pembuatan album paduan suara Dialita yang berhasil meraih penghargaan Best Short Documentary Freedom Film Festival 2018 dan Film Pendek Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia 2018. Setelah pemutaran, para perempuan yang tergabung dalam Dialita naik ke atas panggung membawakan tiga lagu: “Ujian”, “Viva Ganefo”, dan “Taman Bunga Plantungan” sebagai penutup yang syahdu malam itu.

Konsep unik yang akan dibawa ke luar Jakarta

film-musik-makan-2019-03-photo-rb

Setelah Jakarta, Film Musik Makan 2019 akan diselenggarakan di dua kota lain. Kolektif sebagai inisiator acara bekerja sama dengan komunitas setempat, yaitu Smophyc Production (Surabaya) dan Sukabumi Creative Hub (Sukabumi). Dua komunitas tersebut punya kebebasan untuk mengurangi atau menambah slot film yang diputar. Tahun sebelumnya, Bahasinema sebagai mitra penyelenggara di Bandung pun memiliki keleluasaan yang sama.

Konsep acara yang menggabungkan antara film, musik, dan makan memang bukan sesuatu yang baru. Misalnya ada festival musik seperti We The Fest dan festival kuliner seperti Keuken yang juga mengadakan pemutaran film di sela-sela acaranya. Namun dua festival tersebut tidak berfokus pada pemutaran film, sedangkan Film Musik Makan adalah acara yang menjadikan pemutaran film sebagai bahan bakar utamanya.

Pemutaran film yang dibalut dengan musik dan kuliner bisa jadi keunikan tersendiri untuk mengundang orang untuk datang. Di sisi lain, urutan waktu pemutaran film panjang dan pendek, pementasan musik dan diskusi menjadi tantangan tersendiri. Sebab jika urutannya salah, bisa jadi para pengunjung akan meninggalkan acara. Komposisi antara film, musik dan diskusi juga menjadi pertimbangan yang penting agar acara bisa dinikmati dengan nyaman. Rasyid Baihaqi

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest