Home » Featured » Folklore: A Mother’s Love (Episode 1) – Review

Folklore: A Mother’s Love (Episode 1) – Review

folklore-review-a-mothers-love-alert

“Kamu sudah ranking satu di hati ibu,” begitu kata Ibu milik Marissa Anita pada anaknya di episode perdana serial orisinal HBO Asia, Folklore. Murni, sang Ibu, dan Jodi, anak laki-lakinya (diperankan aktor cilik pendatang baru Muzakki Ramdhan), adalah dua tokoh sentral di episode garapan sineas Indonesia, Joko Anwar, dalam episode “Folklore: A Mother’s Love”. Mengingat Joko memang tak bosan menaruh sorotan pada sosok seorang ibu dalam film-filmnya, tak heran kalau ia memasang protagonis seorang single mother untuk melawan makhluk penculik anak, wewe gombel.

Tapi penonton yang mengharapkan akan menonton sebuah episode horor tulen dari pembuat Pintu Terlarang dan Pengabdi Setan akan kaget. Pasalnya, walaupun Folklore memang diniatkan sebagai sebuah serial yang mengangkat kisah-kisah rakyat supernatural dari 6 negara Asia, “A Mother’s Love” ternyata bukan semata cerita horor yang mengandalkan tropes tipikal dari genre ini. Memang Joko menyiapkan beberapa elemen yang creepy, seperti angle kamera yang sugestif dan musik seram serta anak-anak berwajah pucat yang makan kotoran mereka sendiri, tapi keseraman sebenarnya dalam “A Mother’s Love” lebih merupakan betapa beratnya tugas menjadi seorang ibu tanpa sumber daya yang memadai.

folklore-a-mothers-love-episode-still-01
Begitulah Ibu dan si anak laki-laki di “A Mother’s Love” itu hidup: mereka tak punya uang, Jodi tak bisa sekolah, Murni terpaksa mengajarkan anaknya yang sudah 7 tahun tapi belum bisa baca itu sendiri, dan mereka hidup dalam kondisi kurang layak. Diusir dari rumah kontrakan, mereka mencoba tinggal di rumah kosong di mana Murni bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Tak disangka ia malah menemukan sekelompok anak yang merupakan korban penculikan. Karena Murni berhasil membongkar penculikan ini, ia diburu oleh penculik anak yang sebenarnya adalah wewe.

Murni dihantui mimpi buruk dan halusinasi. Semua siaran TV yang ia tonton seakan-akan mengusulkan bahwa ia adalah ibu yang buruk. Ia jadi sering bertengkar dengan Jodi. Dari soal belajar sampai bumbu sate, sang Ibu jadi tak bisa menahan amarahnya. Puncaknya, ia main tangan dalam sebuah adegan intens yang membuat siapapun yang menonton jadi tak nyaman. Yang menyakitkan bukan hanya pukulan tangan Ibu kepada si anak, tapi ekspresi di wajah sang bunda setelah ia melakukan kekerasan itu. Ia hanya bisa duduk terdiam, sementara sang anak menangis sampai batuk dan memohon agar ibunya tidak marah. Adegan ini jauh lebih seram dari jump scare manapun di film horor kebanyakan dan terasa jauh lebih menyakitkan dari baku hantam apapun di layar.

Namun walaupun sulit ditelan dan membuat tidak nyaman, adegan ini membuktikan keahlian Joko sebagai sutradara dan penulis. Naskah yang ia tulis berjalan mulus dari awal hingga akhir, menandakan bahwa ia percaya diri dengan ceritanya. Dari pengakuannya sendiri, banyak adegan di “A Mother’s Love” adalah hasil one take, dan ini memang terlihat. Episode ini adalah hasil karyanya yang paling ‘lepas’, terutama jika dibandingkan hasil kerjanya di serial Halfworlds yang stylish tapi kurang mengena.

Joko pun mampu mengarahkan Marissa dan Muzakki, yang baru kali ini berakting di sebuah drama, dengan natural. Memang, Marissa dan Muzakki punya chemistry kuat, tapi itu pun berkat dukungan Joko yang membiarkan mereka membangun tautan ibu-anak itu dengan sendirinya. Hasilnya, baik Marissa maupun Muzakki bisa merangkul sepenuhnya karakter mereka untuk menampilkan tokoh-tokoh yang terasa nyata dan relatable.

Tidak heran episode inilah yang dipasang sebagai pembuka Folklore. Apakah akan lebih keren kalau wewe muncul lebih dominan di episode ini? Mungkin. Tapi jika niatnya adalah untuk memukau penonton agar ingin menonton episode-episode lain dari Korea Selatan, Jepang, Thailand, Malaysia dan Singapore, maka “A Mother’s Love” menjalankan tugasnya sebagai pemikat dengan baik. Kisah-kisah semacam inilah – dengan cerita berbobot emosi yang dieksekusi dengan cemerlang – yang membuat genre horor kembali bersinar. Kalau kau tanya pada kami, jelas karya Joko Anwar ini adalah “ranking satu di hati kami.” Amanda Aayusya

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest