Home » Featured » Folklore: Mongdal (Episode 6) – Review

Folklore: Mongdal (Episode 6) – Review

folklore-review-mongdal

Enam episode telah lewat dan serial antologi horor HBO Asia Folklore tiba di penghujung dengan episode terakhir dari Korea Selatan. Sungguh tepat bahwa episode garapan Lee Sang Woo, “Folklore: Mongdal”, tiba di akhir. Episode ini, dalam cara yang aneh, seakan-akan mengulangi tema kasih ibu yang pertama kali muncul di episode pertama karya Joko Anwar, “Folklore: A Mother’s Love”. Tapi yang ditampilkan oleh “Mongdal” adalah kasih ibu yang ekstrem dan obsesif.

Dong-joo (Jeong Yun Seok) adalah siswa SMU yang awkward dan dijauhi oleh teman-temannya. Rumor tak sedap mengikuti Dong-joo: bahwa ia pernah mendekati seorang teman perempuannya sampai menguntit dan membunuhnya. Seorang teman baru di sekolah Dong-joo, Seo Woo, cukup ramah terhadapnya, tapi ia pun kemudian menjauh. Perilaku Dong-joo memang terlalu disturbing. Tidak hanya ia suka membayangkan menyakiti teman sekelasnya, ia bertingkah seperti stalker. Di rumah, ia sering kasar pada ibunya sendiri dan, yang paling mengusik, berbicara ke boneka perempuan seolah-olah boneka itu hidup.

Sang ibu, Ok-bin (Lee Chae-yeon), adalah orang yang paling menderita akibat perilaku Dong-joo. Kepala sekolah ini adalah ibu tunggal yang berulang kali mencoba untuk mengendalikan sang anak, walaupun tidak banyak hasilnya. Di satu sisi ia tahu anaknya menakutkan, tapi di sisi lain ia tampak tak kuasa untuk memberinya disiplin. Yang harus dikagumi, sang ibu sama sekali tidak gentar dan tidak mengusir anak yang menyulitkan ini pergi.

folklore-mongdal-episode-still-01Horornya dimulai ketika Dong-joo meninggal. Di sini sutradara Sang Woo menyajikan hantu yang jarang kita lihat di film-film horor: mongdal, seorang hantu perjaka yang tidak pernah menikah seumur hidupnya. Untuk membuat hantu ini tenang, ia harus dikawinkan dengan arwah seorang gadis perawan agar mereka bisa hidup tenang di alam baka. Dan kalau kau pikir tugas ini terlalu berat bagi Ok-bin, maka kau meremehkan cintanya terhadap Dong-joo. Maka itu, hal yang paling menakutkan dari “Mongdal” adalah cinta sang ibu itu sendiri.

Tak kalah dari penampilan Marissa Anita dan Muzakki Ramdhan di “A Mother’s Love”, Chae-yeon dan Yun Seok pun tampil prima sebagai ibu dan anak di “Mongdal”. Chae-yeon yang masih terlihat muda memiliki gravitas sebagai seorang ibu dengan anak remaja dan wibawanya sangat terpancar, baik sebagai orang tua tanggal maupun kepala sekolah. Sementara itu, Yun Seok yang sudah lama menjadi aktor cilik sejak ia muda menunjukkan penampilan yang meyakinkan sebagai pemuda bermasalah. Ekspresi wajahnya yang bisa berubah cepat, dari panas dengan amarah ke dingin tanpa perasaan, akan tetap terbayang-bayang setelah episode ini berakhir.

Sinema Korea Selatan terkenal banyak menghasilkan horor-horor yang populer dan “Mongdal” adalah salah satu bukti bahwa industri filmnya telah menjadi yang terdepan. Ini salah satu episode yang diarahkan dengan sangat kompeten, untuk hasil yang halus dan terpoles. Meskipun begitu, “Mongdal” bukanlah yang terseram. Justru bisa dibilang keseraman di episode ini berada di level yang lebih rendah dibandingkan, misalnya, “Tatami” dari Jepang. Tapi setelah ditonton beberapa kali kami jadi mengerti kenapa kami sungguh terusik oleh kisah ini.

Pasalnya, “Mongdal” dengan total menggali sisi psikologis dari kisah orang tua-anak yang subversif. Sang ibu terobsesi dengan kebahagiaan anaknya yang memang obsesif… sungguh jauh dari kisah kasih sayang ibu dan anak yang lebih konvensional yang ada di episode-episode Folklore lainnya. “Mongdal” memberi contoh bagaimana kalau ‘kekeluargaan’ itu diputarbalik dan dijadikan senjata untuk menakuti penonton. Lagi-lagi, ini satu hal yang membuat penonton susah tidur…

Kami bisa menyimpulkan bahwa proyek Folklore berhasil melakukan apa yang serial ini diniatkan dari awal. Boleh saja kita mengatakan bahwa beberapa episodenya tidak seram, itu sah-sah saja. Tapi kalau kita bicara soal kreativitas, maka keenam insan perfilman Asia dan kru dan cast yang mereka pilih untuk menceritakan kisahnya berhasil menunjukkan bahwa benua ini masih superior di genre horor. Karena horor di Folklore bukanlah horor biasa. Lewat genre populer ini di Folklore, kita bisa belajar sedikit tentang budaya Asia, terutama tentang spiritualisme dan kekeluargaan di wilayah ini yang masih sangat kental dan berperan banyak dalam berbagap aspek kehidupan, tak peduli batas negaranya. Amanda Aayusya

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest