Home » Featured » Folklore: Nobody (Episode 3) – Review

Folklore: Nobody (Episode 3) – Review

folklore-nobody-review

Kuntilanak akhirnya muncul di episode ketiga serial antologi horor produksi HBO Asia, Folklore. Tapi di episode yang berjudul “Folklore: Nobody” dari sutradara Singapura Eric Khoo itu, bukan si kuntilanak – atau yang dikenal dengan istilah ‘pontianak’ di Singapura – yang seorang nobody. Para korbannya lah yang merupakan ‘nobodies’, walaupun sebenarnya mereka semua tetap merupakan ‘somebody’.

Di sebuah lokasi konstruksi bangunan, sekelompok pekerja menemukan mayat yang dibungkus kain. Pemilik perusahaan konstruksi itu, Mr. Kang yang sombong (Louis Wu) menyuruh anak buahnya, mandor bernama Lim (Maguire Jian), untuk membuang mayat itu. Lim malah menyuruh Peng (Li Wen Qiang) untuk mengerjakannya. Tapi Peng justru malah kasihan pada mayat yang ternyata merupakan jasad seorang wanita itu. Bukannya membakar jasad itu seperti yang diperintahkan, ia malah menguburnya DAN melepas paku yang ditusukkan di leher belakang mayat itu.

Peng dan kawan-kawan, termasuk petugas keamanan Saiful (Aric Hidir), yang paling tahu apa maksudnya paku di belakang leher mayat itu. Tapi entah kenapa, hanya ia saja yang panik. Jangankan Kang yang angkuh, Lim saja terlihat tidak ambil pusing. Sementara itu Peng malah lebih dipusingkan oleh masalah lain, yaitu soal kesejahteraan buruh pekerja bangunan yang mendapat perlakuan tidak layak. Temannya dari India, Arup (Sivakumar Palakrishnan), banyak protes soal ini tapi ia lalu diancam tidak dibayar atau dideportasi. Peng, yang memang terlampau baik hati dan peduli, jadi terjebak di tengah-tengah. Padahal ia punya anak di Tiongkok yang harus ia biayai.

folklore-nobody-episode-still-01Horor yang diramu Khoo memiliki dua lapisan. Di lapisan pertama, kita melihat bagaimana orang-orang ini dihantui oleh kesenjangan sosial yang sangat membebani. Mungkin Khoo ingin memberi contoh kepada penonton internasional bahwa Singapura bukan hanya negara maju yang canggih seperti yang diiklankan kepada turis mancanegara. Bahwa, sama seperti negara lain di wilayah Asia Tenggara, negara ini punya polemik tersendiri di dalam masyarakatnya. Khoo sampai pergi menjauhi pusat kota untuk merekam adegan-adegan di “Nobody”, tak ada bukti bahwa Peng atau karakter lain di sini pernah mengenal Orchard Road atau Marina Bay. Tempat kerja mereka terasing, dekat dengan hutan atau perkebunan liar, sehingga mudah saja bagi orang-orangnya digentayangi oleh hantu perempuan murka itu.

Kemudian di lapisan kedua kita melihat si pontianak itu. Di antara ketiga episode Folklore yang sudah tayang, “Nobody” lah yang paling tidak glossy. Sinematografinya tidak cantik, desain setnya pun tidak apik. Elemen horornya sangat basic: tidak ada jump scare yang terlalu heboh, hanya permainan gambar di kaca, gerakan creepy dari si pontianak, dan munculnya benda-benda gaib yang mengkhawatirkan (sebuah paku, contohnya).

Tapi efeknya adalah seperti film horor old school yang sering diputar di TV zaman dahulu. Kalau kau pernah menonton film horor Indonesia di tahun ‘70an atau ‘80an, kau akan tahu atmosfer apa yang menunggumu di “Nobody”. Dan itu saja sudah cukup membuat merinding.

Lebih merinding lagi ketika kita akhirnya tahu apa yang terjadi pada perempuan muda yang akhirnya jadi pontianak itu. Sutradara Indonesia Joko Anwar muncul dalam sebuah cameo yang cukup mengerikan, walaupun kami merasa ia melakukan tugas aktingnya dengan baik dalam waktu singkat yang diberikan. Tapi mengetahui nasib perempuan itu, akhirnya kita pun bisa memahami simpati Peng padanya…

Sangat mengejutkan bahwa Peng sendiri dimainkan oleh seorang aktor pendatang baru. Literally. Li Wen Qiang, aslinya seorang insinyur, baru datang ke Singapura pada 2013 dan mulai berakting sejak saat itu. Tapi ia dengan sukses menjadi hati film ini. Peng lah alasan mengapa kita bisa memaafkan segala kekurangan “Nobody” dan merasa bahwa episode ini telah digarap dengan penuh kesungguhan dan menjadi “something by somebody” yang punya makna lebih. Amanda Aayusya

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest