Home » Featured » Folklore : Pob (Episode 4) – Review

Folklore : Pob (Episode 4) – Review

folklore-review-pob

Memasuki episode keempat serial antologi horor produksi HBO Asia, Folklore, giliran karya filmmaker asal Thailand yang tampil, negara yang kekuatannya di genre horor tak perlu diragukan lagi. Episode “Folklore: Pob” disutradarai Pen-Ek Ratanaruang yang salah satu karya paling terkenalnya adalah Last Life in the Universe yang dibintangi Tadanobu Asano dan Chermarn Boonyasak, serta turut menampilkan sutradara legendaris Jepang, Takashi Miike, sebagai cameo.

Manop (Nuttapon Sawasdee) adalah seorang wartawan yang sedang kesulitan dalam membayar tagihan biaya perawatan ibunya di rumah sakit. Suatu ketika, ia meliput sebuah kasus pembunuhan seorang warga Amerika Serikat bernama Paul Conrad (Thomas Burton Van Biarcom). Di lokasi kejadian, Manop bertemu Pob (Parama Wutthikornditsakul), hantu yang mengaku telah melakukan pembunuhan tersebut.

Dengan berani, Pen-Ek memilih menampilkan kisah ini dalam format hitam-putih. “Kenapa tidak? Saat melihat naskahnya, aku hanya melihatnya dalam hitam dan putih,” jelas Pen-Ek. “Satu hal bagus dari film hitam-putih, itu membuatmu sangat fokus pada kisah dan karakter-karakternya. Kau tak mendapat distraksi dari warna.”

folklore-pob-episode-still-01Terbukti, tak hanya menonjol secara estetika, format hitam-putih juga efektif dalam mengeluarkan atmosfer creepy yang kuat dari episode ini. Penampilan Pob yang sebenarnya biasa saja pun bisa jadi terlihat menyeramkan. Tanpa perlu banyak make-up yang rumit, kehadiran Pob terasa mengusik dan membuat tak nyaman, bahkan saat ia hanya sekadar bercerita atau saat ia hanya bisa diam mendengarkan celotehan Paul yang tak dimengertinya karena berbahasa Inggris.

Salah satu kelebihan para sineas Thailand dalam mengeksplorasi horor adalah saat mereka tak sungkan untuk menyelipkan elemen komedi di dalamnya, begitu juga dengan episode ini. Penempatannya terasa pas, sehingga elemen komedinya tak sampai menganggu alur kisahnya, justru di beberapa bagian bisa memberi sedikit kesegaran di tengah atmosfer creepy-nya. Memang hal tersebut membuat episode ini sedikit absurd, tapi masih wajar, tentu saja komunikasi di antara manusia dengan hantu yang penggerutu, tapi juga pemalu seperti Pob akan berlangsung sedikit awkward.

Memikul beban berat karena judul episode ini diberi nama dari karakter yang dimainkannya, Parama mampu tampil memikat. Dua sisi Pob sebagai hantu yang masih memiliki sifat kemanusian bisa dimainkan dengan mulus. Tatapannya menyeramkan, tapi saat bercerita dan mengeluh juga bisa mengundang sedikit rasa iba dan simpati. Semakin mengagumkan setelah mengetahui fakta jika Parama hanya sebagai aktor secara paruh waktu, sehari-hari ia adalah pengajar agama Budha di sebuah sekolah.

Tapi Parama tak sendirian. Sepertinya Pen-Ek pun memiliki mata yang cukup tajam dalam menemukan bakat baru di dunia akting, karena Nuttapon dan Burton pun baru melakukan debut aktingnya di sini. Dengan penampilan alami dari keduanya, perjudian yang dilakukan Pen-Ek pun terbukti berhasil.

Secara keseluruhan, keberanian Pen-Ek bereksperimen dari sisi artistik dan menyelipkan elemen komedi, serta perjudian dalam pemilihan cast berhasil membuat “Pob” tampil berbeda dan menonjol dibanding episode-episode Folklore lainnya. Krishna Mahendra

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest