Home » Featured » Folklore: Tatami (Episode 2) – Review

Folklore: Tatami (Episode 2) – Review

folklore-review-tatami

Tatami adalah semacam matras tradisional Jepang yang terbuat dari jerami. Sejak zaman dahulu, rumah-rumah di Jepang sudah identik dengan penggunaan tatami sebagai alas di dalamnya. Saking dekatnya dengan kehidupan masyarakat Jepang, bahkan ada mitos yang mengatakan jika tatami dapat menyerap emosi negatif dan positif dari penggunanya, termasuk kemarahan dan dendam.

Lewat perjalanan Makoto Kishi yang diperankan Kazuki Kitamura, episode kedua serial orisinal HBO Asia, Folklore, mengeksplorasi urban legend tersebut. Makoto adalah seorang jurnalis kriminal yang kehilangan indera pendengarannya saat masih anak-anak. Dalam melakukan pekerjaannya, ia memiliki kebiasaan aneh, yaitu diam-diam menginap di tempat kejadian perkara. Tak hanya agar bisa mengambil gambar secara leluasa, ia juga biasa membayangkan apa yang telah terjadi di sana.

Namun saat harus kembali ke rumahnya untuk menghadiri pemakaman sang ayah, tiba-tiba Makoto mendapat banyak flashback dari masa kecilnya. Kemudian ia juga menemukan sebuah ruangan misterius di rumahnya, di mana di dalamnya terdapat sebuah tatami yang menyimpan rahasia kelam keluarganya.

folklore-tatami-episode-still-02Sutradara Takumi Saitoh – yang lebih populer sebagai seorang model dan aktor lewat film-film seperti Ace Attorney dan Ai to Makoto, tapi karier penyutradaraannya tahun ini sangat mencuri perhatian lewat Blank 13 – memilih untuk menceritakan kisah “Tatami” dengan tempo yang cukup lambat. Memang dibutuhkan energi ekstra untuk menebak-nebak ke mana arah ceritanya, apalagi dengan minimnya dialog karena sang karakter utamanya tak bisa bicara. Tapi di sisi lain, hal tersebut juga efektif dalam menonjolkan aura misteri dari kisah dan karakternya. Kesabaran untuk mengikuti kisahnya pun dijamin akan terbayar lunas begitu memasuki bagian klimaksnya yang mengejutkan dan ditutup dengan adegan yang akan membuatmu mengernyitkan dahi.

Satu hal lagi yang membuat kita merasa seperti terbelenggu dengan kisahnya adalah formula terornya. Dibanding menampilkan parade adegan berdaya kejut tinggi, episode “Tatami” ini lebih mengandalkan atmosfer mencekam yang mampu menimbulkan rasa tak nyaman. Untuk mendapatkan atmosfer semacam itu, tentu dibutuhkan tunjangan dari produksi set, tata suara hingga efek visual yang baik. Dan Saitoh pun mampu meramu elemen-elemen tersebut dengan pas untuk satu tujuan: Mengusik pikiran kita.

Dari sisi akting, Kitamura tampil solid. Tak hanya tampil meyakinkan sebagai seseorang tanpa indera pendengaran, sejak awal juga dapat terlihat jika Makoto menyimpan sebuah trauma atau masa lalu yang tak mengenakkan. Saat hal tersebut kembali mendatanginya, ketakutannya secara emosional pun dapat tersalurkan dengan baik ke layar.

Sebagai perwakilan Jepang untuk Folklore, sutradara Saitoh jelas telah berhasil membuat “Tatami” punya gaya, tone dan kisah yang cukup khas sinema horor Jepang. Krishna Mahendra

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest