Home » Featured » Folklore: Toyol (Episode 5) – Review

Folklore: Toyol (Episode 5) – Review

folklore-toyol-review

Setelah mengunjungi cerita-cerita horor dari Indonesia, Jepang, Singapura dan Thailand, pada episode kelima serial antologi horor produksi HBO Asia, Folklore, kisah supernatural asal negara tetangga serumpun kita, Malaysia, yang mendapat giliran. Sesuai judulnya, Episode “Folklore: Toyol” yang disutradarai Ho Yuhang akan berfokus pada makhluk yang berperawakan seperti bayi dengan kepala besar, mata merah dan gigi tajam, yaitu toyol, atau yang di Indonesia lebih famliar dengan sebutan tuyul.

Namun berbeda dengan di Indonesia yang lebih identik sebagai pencuri harta benda ulung, toyol di sini lebih dimanfaatkan pemiliknya untuk kepentingan kekuasaan dan dendam. Dihidupkan dari janin orang yang sudah mati lewat ritual ilmu hitam, toyol bisa menjadi sangat kuat dan siap melakukan apapun perintah pemiliknya, tapi tentu saja ada konsekuensi besar juga di balik itu semua.

folklore-toyol-episode-still-02Sebuah kota kecil mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar setelah ikan-ikan di sungai, yang menjadi sumber pendapatan warganya, tiba-tiba mati secara misterius. Seorang anggota parlemen (Bront Palarae) berusaha mengatasi masalah tersebut dan menjadikannya momentum untuk menaikkan reputasinya, sekaligus lepas dari bayang-bayang kesuksesan ayahnya. Namun dukun yang ia minta bantuannya untuk mengatasi masalah tersebut adalah seorang penipu, sehingga reputasinya justru terancam hancur. Di saat itu, tiba-tiba muncul seorang wanita misterius (Nabila Huda) berkekuatan supernatural yang menawarkan bantuan, sang anggota parlemen pun berpaling padanya. Tapi tentu saja sang wanita misterius tersebut menyimpan rahasia yang gelap dan memiliki agendanya sendiri.

Dengan cerdik, sutradara Yuhang mampu memanfaatkan kota kecil yang menjadi setting-nya untuk menghasilkan tone dan atmosfer yang mencekam. Bukan hanya suasana sepi di beberapa daerah yang diandalkan, tapi juga bagaimana reaksi para warga terhadap kejadian aneh yang terjadi di kota mereka. Cara mereka yang sangat berhati-hati dalam bergunjing cukup efektif dalam meningkatkan intensitas episode ini.

Kualitas produksi episode ini juga tak dapat diremehkan. Proses ritual ilmu hitamnya dieksekusi dengan memikat, sementara desain penampilan toyolnya cukup menyeramkan dan mengintimidasi. Formula terornya pun terlihat telah direncanakan dengan matang, sehingga setiap kemunculan dan serangan dari sang toyol bisa terasa mengerikan. Yuhang cukup efektif dalam memanfaatkan detail terhadap beberapa properti kecil untuk menebalkan dan menambah lapisan emosi pada plotnya.

Bront sendiri bermain cukup mulus sebagai sang anggota parlemen, terkadang terasa jika masih ada sedikit kebaikan di dalam karakternya, tapi lebih terasa lagi jika ia telah dirusak oleh ambisi dan godaan dari sang dukun. Tapi harus diakui jika daya tarik utama episode ini adalah misteri dari sang dukun, dan pancaran kuat misteri tersebut jelas berkat penampilan kuat dari Nabila. Gerak tubuh, ekspresi, hingga gaya bicaranya sungguh kaku, tapi juga begitu membius.

Jika banyak yang beranggapan jika horor asal Malaysia yang sukses harus menyelipkan elemen religi yang kuat, maka episode ini memberi tahu jika jawabannya adalah tidak, meski memang tetap tak jauh-jauh dari dukun yang bermain ilmu hitam. Krishna Mahendra

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest