Home » Featured » Green Book – Review

Green Book – Review

Keep your enemies close, your driver closer

All Film Star Rating 9

green-book-review-all-film

Sejak trailer Green Book pertama kali dirilis, film ini langsung masuk ke dalam radar kami. Cast yang membintanginya – Viggo Mortensen dan Mahershala Ali – adalah dua aktor favorit kami dan subjeknya, yang diangkat dari tokoh dan kejadian nyata, sangat menarik minat. Tapi yang lebih membuat penasaran adalah pembuat filmnya: Peter Farrelly dari Dumb and Dumber. Bisakah sutradara yang membuat seri film konyol itu menangani materi sensitif seperti rasisme dan kesenjangan sosial di Amerika tahun ‘60an?

Ternyata bisa. Tidak ada jejak dari komedi yang Farrelly arahkan di Dumb and Dumber dan sekuelnya atau The Three Stooges dalam Green Book. Kisah yang menceritakan perjalanan pianis Afrika-Amerika Dr. Don Shirley dari New York ke daerah Selatan AS yang saat itu masih mempraktekkan segregasi warna kulit di berbagai tempat itu dimulai dengan perkenalan kepada Tony Vallelonga, alias Tony Lip, yang bekerja sebagai bouncer di klub malam. Tony kehilangan pekerjaan saat klub tempat ia bekerja ditutup untuk renovasi dan ia mencoba segala cara untuk mencari uang, dari bertaruh makan hotdog sebanyak mungkin sampai menggadaikan jamnya. Ia ditawarkan pekerjaan sebagai supir dan asisten Dr. Shirley untuk tur konser di Deep South dan menerimanya.

Perjalanan mereka tentu saja tidak lancar. Tony milik Mortensen adalah pria keturunan Italia yang kasar, ringan tangan dan tidak terpelajar. Don Shirley milik Ali adalah pria sopan, dingin dan cerdas. Layaknya film-film buddy comedy, kontras antara kedua karakter ini ditonjolkan dan disorot oleh Farrelly, tapi berkat karisma dan talenta masing-masing aktor, duo Tony dan Don terasa unik. Di salah satu adegan kocak yang juga cukup powerful, Tony mencoba mengajarkan Don untuk makan ayam goreng Kentucky menggunakan tangan. Ketika Don bertanya apa yang harus ia lakukan dengan sisa tulangnya, Tony menyuruhnya melempar tulang ke luar jendela mobil. Tapi ketika Tony membuang gelas plastik bekas, Don marah dan memaksanya kembali untuk memungut sampah itu. Ini satu dari banyak momen istimewa yang mengisi film ini.

Green Book cukup bisa menyeimbangkan tema keadilan sosial yang berat dengan komedinya. Walaupun film ini bernada ringan, saat-saat di mana rasisme itu ditunjukkan tetap membuat hati kita sakit. Tanpa bersifat menggurui, kita diperlihatkan bagaimana seorang dengan bakat dan ketenaran besar sekalipun belum bisa mengalahkan prasangka dan diskriminasi. Tapi di level personal, baik Don maupun Tony tidak pernah digambarkan sebagai martir sehingga film ini bersifat cukup netral. Don yang sulit untuk bergaul karena ia merasa terasing dari rasnya sendiri bukan karakter yang langsung bisa disukai. Tony pun melelahkan; ia tidak terlalu peka dan terlalu senang kekerasan. Namun, sekali lagi, saat keduanya berbagi layar, hasilnya sungguh memesona.

Secara keseluruhan film ini mungkin tidak terlalu mengobarkan jiwa perjuangan demi mencapai kesetaraan seperti, contohnya, Hidden Figures atau Selma. Jangan bandingkan juga dengan 12 Years A Slave. Tapi kalau kau mencari cerita dengan dinamika unik antara kedua karakter utamanya, yang sama-sama kuat, sama-sama memikat dan sama-sama melegenda, Green Book lah filmnya. Amanda Aayusya

Nutshell… Green Book membahas isu sosial sensitif dengan cara yang halus dengan mengandalkan kisah nyata yang menarik, dua aktor utama yang cemerlang dan arahan yang – secara mengejutkan – sangat handal dari sutradaranya.

Rating PG-13 Director Peter Farrelly Cast Viggo Mortensen, Mahershala Ali, Linda Cardellini, Dimiter D. Marinov, Mike Hatton Running time 130 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest