Home » Reviews » Kick-Ass 2

Kick-Ass 2

They will hate it if this movie is rebooted…

Jim Carrey Aaron Taylor-JohnsonKICK-ASS DAN HIT-GIRL muncul lagi di Kick-Ass 2 dan kali ini mereka harus menghadapi supervillains, kehidupan sebagai warga sipil dan hormon remaja yang membuat hidup mereka kacau balau. Mereka juga harus menghadapi kehadiran penulis dan sutradara baru – Jeff Wadlow – dan kenyataan bahwa mereka sudah masuk teritori franchise. Ya, banyak isu yang harus mereka tangani dan film ini bisa jadi semakin mengangkat mereka… atau justru menjatuhkan.

Untunglah bagi pasangan superhero tanpa kekuatan super favorit kita, mereka tak sendiri. Mereka bukan lagi satu-satunya orang yang menjadi vigilante. Aksi Kick-Ass dan kostum selamnya di film pertama menginspirasi banyak orang lain untuk memakai samara dan menghajar penjahat demi keadilan. Bagi David Lizewski, yang rindu pada kehidupan rahasianya itu, bertemu dengan orang-orang ini via social media (saking seringnya hal ini dipakai, kami sampai lupa apakah film ini menggunakan situs asli atau membuat situs palsu) adalah mimpi yang jadi kenyataan. Apalagi karena sekarang Mindy Macready sudah ‘pensiun’ dan punya masalah sendiri: para Mean Girls di SMU.

Pada intinya Kick-Ass 2 adalah kisah pencarian jati diri. (Dan juga kisah tentang hubungan ayah-anak, tapi itu lebih baik kita bahas nanti saja.) Baik Dave dan Mindy harus mencari alasan kuat untuk terus berjuang di saat semua orang berusaha meyakinkan mereka bahwa upaya mereka tak lagi diperlukan. Tema ini tidak disajikan dengan halus – mereka dengan terbuka, dan bahkan dengan dialog yang kadang norak, membahas hal tersebut. Tapi walaupun banyak hal yang memberatkan mereka, Dave dan Mindy masih memiliki pesona yang adorkable. Tentunya ini berkat talenta dan kualitas bintang Aaron-Taylor Johnson dan Chloe Grace Moretz.

Gag reflex

Di sisi lain, ada tokoh jahat milik Christopher Mintz-Plasse (film ini sangat suka dengan aktor dengan tiga nama). Mantan Red Mist – yang kini bernama The Motherf*cker – ini juga mencari alasan kuat untuk menjadi supervillain; hanya saja, ia mendapatkannya lebih cepat dari Mindy dan Dave. Ya, ia yakin ingin jadi supervillain. Ya, ia akan memakai kostum a la BDSM. Ya, ia ingin membalas dendam atas kematian ayahnya dan membunuh orang yang bertanggung jawab untuk daddy issues-nya. Begitu dapat, ia segera menebar ancaman bagi Kick-Ass dan Hit-Girl.

Dan ancaman itu serius. Meskipun ada lelucon rasialis yang tidak berkelas tentang para anggotanya, serta tampilan super konyol mereka, tim yang dikumpulkan The Motherf*cker langsung meningkatkan level kekerasannya. Sebuah sequence dengan mobil-mobil polisi, pemotong rumput dan berbagai ledakan menghasilkan pertumpahan darah yang akan memuaskan mereka yang datang kembali ke dunia ini untuk action kerasnya.

Sudah jelas bahwa Wadlow tahu apa yang ia lakukan. Ia bukan pilihan yang salah untuk menyutradarai film ini. Arahannya memang berbeda dari sutradara film pertama, Matthew Vaughn, tapi karakter dan jiwa yang sama masih ada di sekuel yang seru, meskipun tak sempurna, ini. Humornya lebih universal (“Twilight, Channing Tatum, Union J. Jangan dilawan,” ujar mean girl Brooke pada Mindy setelah cameo kocak boyband Union J) dan membawa lebih banyak efek ‘L.O.L.’ dibandingkan humor yang lebih ‘kering’ di film pertama. Wadlow pun tahu caranya menyenangkan fans komik dan genre superhero dengan memasukkan banyak Easter eggs di filmnya.

Daddy issues

Namun harus diakui film pertama Kick-Ass lebih memiliki hati. Kisah Big Daddy buktinya – hubungan ayah-anak antara Big Daddy dan Hit-Girl, ditambah shock value yang dihasilkan mereka, jauh lebih berkesan. Duo ayah-anak Lizewski di film ini mencoba menyamai hal itu, tapi meskipun mereka mendapat klimaks emosional, masih saja kurang istimewa jika dibandingkan pasangan pertama itu.

Kita baru bisa menghargai Nicolas Cage sekarang, saat kita melihat aktor-aktor dewasanya datang dan lalu tumbang. Bodyguard milik John Leguizamo – yang menjadi hati nurani Chris D’Amico – adalah pemicu yang baik, tapi tidak cukup kuat sebagai motivator. Sama halnya dengan Jim Carrey sebagai Colonel Stars and Stripes, yang menghibur dan heroik, tapi tidak memiliki kehadiran kuat seperti Cage.

Apakah ini kasus dari terlalu banyak karakter, terlalu sedikit pengembangannya? Bisa jadi. Sepertinya Wadlow sudah cukup memberikan perhatian pada detail, tapi seolah lupa pada gambaran besarnya. Film ini memiliki adegan-adegan fantastis tapi, secara keseluruhan, tidak dijahit dengan rapi. Mungkin di kesempatan berikutnya (kalau ada), disertai supervisi yang lebih ketat dari Vaughn sebagai produser, film ketiga Kick-Ass bisa lebih utuh dan lebih bermakna.

Tapi tetap saja, bahkan tanpa hal-hal yang membuatnya menjadi film bintang lima, Kick-Ass 2 masih wajib ditonton, sangat layak dan akan menendangmu. Intinya, jangan terlalu banyak berpikir, santai saja dan kau akan bersenang-senang. Amanda Aayusya

THE VERDICT Jeff Wadlow memberikan Kick-Ass dan Hit-Girl yang lebih seru dan dinamis tapi agak dangkal. Kekerasannya mencengangkan dan humornya segar – hanya saja kita butuh sesuatu yang lebih menendang.

Certificate R Director Jeff Wadlow Starring Aaron Taylor-Johnson, Chloe Grace Moretz, Christopher Mintz-Plasse, Jim Carrey Screenplay Jeff Wadlow Running time 103 mins

rate_3star

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest