Home » Featured » Lola Amaria Kembalikan Isu Pentingnya Pancasila

Lola Amaria Kembalikan Isu Pentingnya Pancasila

06

Situasi Indonesia menghangat di tahun politik ini. Serangan teroris datang bertubi-tubi mengusung agenda untuk mengubah Pancasila. Hal ini menjadi inspirasi bagi Lola Amaria Productions bersama Forum Bhinneka Tunggal Ika untuk membuat film bertajuk Lima.

Proyek Lima digarap oleh lima sutradara, namun bukan film omnibus. Mereka adalah produser Lola Amaria sendiri, kemudian ada Adriyanto Dewo, Harvan Agustriansyah, Tika Pramesti, hingga Shalahuddin Siregar. Kelimanya bercerita dalam satu bangunan yang utuh dan mengalir membentuk satu cerita besar dengan ciri khas masing-masing.

“Ini memang mencoba mensosialisasikan kembali nilai-nilai Pancasila,” ucap Lola saat konferensi pers usai pemutaran filmnya di Djakarta Theater Lounge, Jakarta Pusat, Kamis (24/5).

Dengan skenario yang digarap penulis Titien Wattimena dan Sinar Ayu Massie, Lola bersama sutradara lainnya mengupas nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. “Ya, kita kembali kepada lima hal yang paling mendasar, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.”

Kemudian nilai-nilai itu dibagikan sebagai ide dasar penceritaan untuk masing-masing sutradara. Ketuhanan untuk Shalahuddin, kemanusiaan untuk Tika, persatuan untuk Lola, musyawarah untuk Harvan, dan keadilan untuk Adriyanto.

“Saya bercerita tentang atlet olahraga renang. Kan, banyak atlet kita yang keturunan Tionghoa sudah jadi juara, eh tetap sulit untuk urusan kewarganegaraan,” tutur pemain film Ca Bau Kan ini. “Di dunia olahraga ada kasus korupsi.”

Diperkuat oleh pemain Prisia Nasution, Yoga Pratama, Baskara Mahendra, Tri Yudiman, Dewi Pakis, film Lima rencananya diputar di bioskop mulai Kamis, 31 Mei. Tepat sehari sebelum hari lahirnya Pancasila yang merupakan hari libur nasional. “Kebetulan memang pas jadinya film ini dekat dengan ulang tahunnya Pancasila ya…,” seloroh Lola lagi.

Membuat film dengan konsep keroyokan seperti ini, sebenarnya bukan perkara baru bagi Lola. Pada 2012, dia bersama sejumlah sutradara termasuk Tika dan Adriyanto menggarap Sanubari Jakarta. Isunya tentang masalah kemanusiaan. BB

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest