Home » Featured » Para Cast dan Sutradara Berbicara Tentang Bad Genius

Para Cast dan Sutradara Berbicara Tentang Bad Genius

By Krishna Mahendra

P1130904

Bad Genius dari rumah produksi GDH559 yang disutradarai Nattawut Poonpiriya telah dirilis di beberapa jaringan bioskop Indonesia dan sukses mencuri perhatian para penonton. Dengan brilian, sang sutradara berhasil membuat aksi sontek-menyontek di dalam kelas jadi sebuah thriller yang sangat menegangkan. All Film pun tak ketinggalan untuk memberikan ulasan yang sangat positif untuk Bad Genius (bisa dibaca di sini).

Jelang dirilisnya film ini di Indonesia pada Agustus lalu, Nattawut dan para cast yang terdiri dari Chutimon “Aokbab” Chuengcharoensukying, Teeradon “Jamy James” Supapunpinyo dan Chanon “Nonkul” Santinatornkul sempat datang ke Indonesia, dan kami tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk berbincang-bincang dengan mereka. Berikut adalah rangkumannya:

Apa formulamu untuk membuat ujian di dalam kelas yang sebenarnya sangat membosankan bisa jadi sangat menegangkan di Bad Genius?
Nattawut: Itu adalah tantangan tersulit dari film ini. Untuk dapat menciptakan ketegangan, aku harus menerjemahkan kegiatan tersebut ke dalam bahasa sinema dengan semua teknis sinematografi yang aku tahu. Semua itu juga tak lepas dari kolaborasi dengan juru kamera dan tim lighting saat proses syuting.

Dari begitu banyak tema tentang kehidupan anak sekolah, kenapa kau memilih fokus pada masalah sontek-menyontek?
Nattawut: Sejak awal, itu memang sudah menjadi ide dikembangkannya film ini. Awalnya aku ingin membuat film ini lebih ringan dan menghibur, tapi seiring dengan perkembangan naskahnya, aku merasa film ini bisa jadi lebih serius, sekaligus menyampaikan pesan tentang kondisi pendidikan di Thailand saat ini.

Ada alasan personal saat memilih menggarap cerita ini?
Nattawut: Aku memang suka dengan genre thriller dan heist, dan film ini mengangkat ide tentang pencurian di dalam ujian. Di Thailand juga belum banyak film seperti ini, sehingga aku merasa tertantang untuk membuat film ini relevan dengan budaya orang Thailand.

STIMAGE Generic chit for general uploading.Sedalam apa riset yang kau lakukan, apakah ini benar-benar mirip dengan kejadian nyata yang menginspirasi film ini?
Nattawut: Aku membutuhkan riset yang cukup lama untuk membantu penulisan naskahnya, lebih dari satu tahun. Aku harus mempelajari seperti apa peraturan dari ujian STIC. Selain itu, karena aku sudah meninggalkan sekolah lebih dari 20 tahun lalu, aku harus mencari tahu seperti apa kehidupan anak sekolah zaman sekarang.

Setelah film pertamamu, Countdown, kini kau kembali membuat thriller yang melibatkan remaja sebagai karakter utamanya. Apakah kau punya ketertarikan tersendiri dengan hal tersebut?
Nattawut: Manusia sebenarnya selalu berada di area abu-abu dan masa remaja adalah fase awal dan terpenting dalam perubahan hidup manusia, ingin jadi seperti apa di masa depan. Lewat film ini, aku ingin menunjukkan pilihan hidup yang diambil oleh karakter-karakternya.

Untuk Aokbab, ini adalah debutmu di layar lebar. Bagaimana kau bisa terlibat di film ini?
Aokbab: Aku dua kali mengikuti proses casting bersama banyak sekali aktor lainnya yang diundang sang sutradara. Saat dipanggil casting untuk ketiga kalinya, aku harus berakting dengan Eisaya Hosuwan (pemeran Grace). Sepertinya bagian yang terakhir itu yang membuat Nattawut yakin untuk memilih kami berdua.

Usaha apa saja yang kau lakukan agar benar-benar bisa masuk ke dalam karakter Lynn?
Aokbab: Aku menjalani workshop yang sangat intensif bersama sutradara. Dalam workshop itu, ada kuis yang terdiri dari 180 soal. Dari hasil jawabannya, sutradara akan menilai apakah aku sudah memiliki pola pikir yang ia inginkan untuk menjadi Lynn. Karena Lynn juga memiliki latar belakang ekonomi yang lemah, aku juga harus fokus dalam menampilkan rasa candunya saat mulai bisa mendapatkan uang dengan memberi sontekan ke teman-temannya yang kaya. Selain itu, aku juga harus berlatih menulis dengan tangan kiri karena konon katanya orang kidal memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.

Bagaimana kalian para cast membangun chemistry di film ini?
Jamy James: Kami punya sesi workshop yang dibuat GDH559 untuk membuat kami lebih saling mengenal. Kami juga mendapat semacam pekerjaan rumah yang berisi soal-soal tentang para karakter di film ini.
Nonkul: Saat pertama kali kami berkumpul, aku tak dapat langsung merasakan chemistry di antara kami. Tapi saat kami sudah semakin saling mengenal satu sama lain, pada akhirnya chemistry tersebut muncul secara otomatis. Kini kami menjadi teman di dunia nyata.

Seperti apa rasanya bekerja dengan sutradara Nattawut?
Nonkul: Sebagai sutradara, ia adalah orang yang sangat mencintai pekerjaannya dan kupikir semua orang di set dapat merasakannya. Sebagai pemimpin di set, saat ia sangat termotivasi dengan pekerjaannya, maka itu akan menular ke semua orang dan ikut mendorong mereka untuk bekerja semaksimal mungkin.
Aokbab: Suasana kekeluargaan sangat terasa di set karena sutradara Nattawut selalu memberi masukan untuk membuat aktingku lebih baik.
Jamy James: Ia adalah sutradara yang mampu mendorongku mengeluarkan semua kemampuanku yang mungkin sebelumnya masih tersembunyi. Ia juga orang yang serius, tapi keseriusannya tersebut telah membuatku jadi aktor yang lebih baik.

BTS#2 0009resizeSeperti kau katakan sebelumnya, film seperti Bad Genius belum banyak dibuat di Thailand. Apakah sejak awal kau yakin jika film ini akan diterima dengan baik oleh penonton di Thailand?
Nattawut: Aku sama sekali tak memikirkan soal pendapatan di box office saat mulai mengerjakan film ini. Seorang sutradara tak bisa hanya memikirkan masalah pendapatan saja, yang lebih penting adalah membuat filmnya sebaik mungkin.

Saat melakukan proses syuting di Australia, apakah pemerintah setempat banyak membantu?
Nattawut: Australia adalah tuan rumah yang sangat baik. Mereka sangat membantu film ini, khususnya untuk masalah perizinan di lokasi-lokasi tertentu yang awalnya kupikir mustahil untuk didapat. Tapi ternyata pemerintah setempat mau memberikan izin dengan beberapa persyaratan tertentu.

Apakah di proyek selanjutnya kau akan masih berkutat dengan remaja dan thriller?
Nattawut: Sampai saat ini, aku masih belum memiliki rencana apapun. Kalaupun ada, mungkin akan masih berhubungan dengan remaja karena aku ingin merasa tetap muda, tapi mungkin dengan genre yang berbeda [tertawa].

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest