Home » Featured » Selembar Itu Berarti, Potret Pilu Masa Kini

Selembar Itu Berarti, Potret Pilu Masa Kini

IMG20180522171540

Tak banyak film bertema pendidikan hadir di bioskop. Alasan inilah yang mendorong rumah produksi Mora Heart Production menyodorkan film berjudul Selembar Itu Berarti. Disutradarai oleh Dedy Arliansyah Siregar, proyek ini memberikan gambaran perjuangan anak-anak yang tak pantang menyerah demi pendidikan.

Fokus ceritanya seputar perjalanan kakak-beradik, Putri dan Diaz, yang berasal dari keluarga miskin. Ayah mereka sudah tiada, ibu pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Setelah ditinggal orang tua, keduanya harus bertahan hidup demi menggapai cita-cita. Tentu saja jalan yang mereka lalui penuh lika-liku.

“Awal inspirasinya datang saat saya bertualang di beberapa kabupaten di Sumatera Utara. Saya lihat pendidikan yang belum merata. Memang biaya sekolahnya bisa gratis, tapi bagaimana kalau nggak bisa makan,” ucap Dedy saat ditemui di Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (22/5).

Dedy menggambarkan karakternya yang bertahan hidup dengan mengumpulkan kertas bekas demi melanjutkan sekolah. “Mereka seperti digambarkan lewat judulnya, selembar pun tetap berarti,” ujarnya dengan antusias. Helai demi helai mereka kumpulkan lagi agar bisa dipakai untuk sekolah.

Film ini mengambil lokasi di dua kabupaten di Sumatera Utara, masing-masing Langkat dan Tapanuli Utara. Pemainnya sebagian dari kalangan muda berbakat dan menjadi debut mereka di layar lebar, Putri diperankan oleh Puteri Dalilah Siagian dan Diaz diperankan oleh Raihan F Valendaz.

Sisanya ada Yessica T Simanjuntak, Ratu Rizka Apriyani, dan Cuta Indah Rizky. Mereka beradu akting dengan pemain berpengalaman seperti Raslina Rasyidin, Anwar Fuadi, dan Jay Wijayanto. Sementara lagu soundtrack dibawakan oleh Puteri Siagian.

Uniknya, sang sutradara mendapat rekor MURI atas 18 jabatan yang disandangnya di film ini. Bukan hanya sutradara, bahkan skenario, tata artistik, tata kostum sampai editor dia garap sendiri. Apakah karena anggaran yang minim? “Tidak, bukan begitu. Saya memang idealis dan belum menemukan orang yang sevisi untuk kerja bareng di sini.” BB

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest