Home » Featured » The Battleship Island – Review

The Battleship Island – Review

Escape from hell

All Film Star Rating 8CBI pict 15. Hwang

Mengangkat salah satu fase terkelam dalam sejarah Korea saat masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, The Battleship Island fokus pada perbudakan yang dilakukan Jepang terhadap orang Korea di tambang batu bara di Pulau Hashima yang berada di wilayah perairan Nagasaki, Jepang. Pulau ini juga dikenal dengan nama Battleship Island karena bentuknya yang terlihat seperti kapal perang dari kejauhan.

Di antara para pekerja paksa ini ada Lee Kang-ok (Hwang Jung-min), musisi yang bersama putrinya, So-hee (Kim Su-an), dan rekan satu bandnya dijebak untuk bekerja di Hashima. Lalu ada Choi Chil-sung (So Ji-sub), gangster yang cukup disegani di Kyungsung – kini Seoul – dan sering membuat masalah saat bekerja di Hasima, serta Oh Mal-nyeon (Lee Jung-hyun), wanita yang dibawa ke Hashima untuk bekerja di distrik hiburan. Terakhir ada Park Moo-young (Song Joong-ki), anggota organisasi Kemerdekaan Korea yang menyusup ke Hashima untuk membebaskan rekan satu organisasinya. Mereka semua harus melakukan hal yang sama setibanya di Hashima, berjuang bertahan hidup dan melarikan diri.

CBI pict 14. SJS

Pujian pertama yang layak diberikan untuk film ini adalah keberhasilan tim produksi dalam membangun set yang cukup megah. Detail terhadap setiap bangunan hingga area pertambangannya benar-benar mampu menunjukkan besarnya skala film ini. Dan setelah dibekali dengan set yang memikat ini, sutradara Ryoo Seung-wan pun kemudian bisa memaksimalkannya untuk menampilkan tone suram filmnya. Kita dibuat seperti bisa ikut merasakan kondisi seperti neraka yang harus dihadapi para pekerja, situasi di dalam tambang juga terasa sangat claustrophobic.

Pujian lainnya adalah untuk bagaimana Seung-wan mengarahkan bagian action-nya yang terkoreografi dengan sangat apik. Set piece pertempurannya spektakuler dan mendebarkan, sementara bagian pertarungan tangan kosongnya seru dan brutal. Di beberapa pertarungan, terasa kadar emosi yang cukup tinggi di dalamnya, sehingga penonton mungkin akan sedikit bersorak karena merasakan kepuasan tersendiri saat tiba di bagian klimaksnya.

Dari sisi plot, cukup menarik bagaimana Seung-wan membuat para karakter utamanya memiliki latar dan tujuan yang berbeda-beda. Mereka bersinggungan hanya karena sama-sama ingin bertahan hidup dan meninggalkan Hashima secepatnya. Mereka semua juga bukan pahlawan yang melakukan aksi heroik, semua yang mereka lakukan hanya berdasarkan naluri untuk bertahan hidup, termasuk dengan cara-cara yang kotor. Tapi dasar film Korea, ketika para karakternya menemukan motivasi yang tepat, jadinya tetap ada unsur melankolis di dalamnya. Untung proporsi dan penempatannya pas, bagian ini tak sampai merusak alurnya dan rasanya masih dapat dinikmati oleh mereka yang biasanya tak suka dengan elemen khas sinema Korea ini.

Emosi film ini semakin kental juga berkat chemistry kuat Jung-min dan Su-an sebagai ayah-anak. Jung-min semakin menunjukkan jika ia tak hanya salah satu aktor terbaik Korea saat ini, tapi juga memiliki aura kebintangan yang sangat kuat dan sangat bisa diandalkan untuk memimpin film berskala besar seperti ini. Sementara Su-an, setelah tampil mengesankan di Train To Busan dan Mad Sad Bad, ia semakin menunjukkan jika ia adalah anak dengan bakat akting terbesar di Korea. Sementara Ji-sub dan Joong-ki mampu memberikan performa fisik yang sangat prima dan karisma tersendiri dalam setiap kemunculannya di layar. Krishna Mahendra

Nutshell Film ini dapat menggambarkan perkembangan sinema Korea saat ini. Kualitas produksi yang memikat, action yang seru dan mendebarkan, tapi tetap melankolis.

Rating PG-13 Director Ryoo Seung-wan Screenplay Ryoo Seung-wan Cast Hwang Jung-min, Kim Su-an, So Ji-sub, Lee Jung-hyun, Song Joong-ki Running time 132 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest