Home » Featured » The House with a Clock in Its Walls – Review

The House with a Clock in Its Walls – Review

A self-possessed house

All Film Star Rating 8

the-house-with-a-clock-in-its-walls-review

Jarang membuat film anak-anak, Eli Roth memberanikan diri mengambil materi buku bacaan anak-anak klasik dari 1973 untuk dijadikan film. Dengan naskah dari pencipta serial Supernatural Eric Kripke, ia terjun ke dunia sihir dengan setting tahun ‘50an dalam film petualangan keluarga The House with a Clock in Its Walls dan membuktikan, ‘tidak pernah’ bukan berarti ‘tidak bisa’.

Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro) adalah bocah berusia 10 tahun yang jadi yatim piatu. Ia datang ke New Zebedee, Michigan, untuk tinggal bersama pamannya yang sudah lama terasing dari keluarganya, Jonathan Barnavelt (Jack Black). Sang paman terlihat aneh dan seakan-akan menyembunyikan sesuatu, tapi tinggal di rumahnya cukup seru walaupun agak menakutkan. Ada detak jam di rumah mereka yang kencang, tapi tidak diketahui letak jamnya. Lama kelamaan misteri ini semakin mengganggu mereka.

Tapi Lewis segera berteman dengan tetangga mereka, Florence Zimmerman (Cate Blanchett), teman dekat sang paman, sehingga mereka perlahan-lahan mulai bekerja sebagai keluarga yang lengkap. Ia pun mulai belajar sihir dari kedua orang dewasa ini, menjadikannya pelarian dari lingkungan sekolah baru yang tak bersahabat. Sayangnya ketiganya pun masih menyimpan luka di dalam hati yang akan menjadi halangan saat rumah keluarga Barnavelt mulai mengungkap rahasianya yang penting.

The House with a Clock in Its Walls lumayan sukses menggambarkan sihir dalam setting dunia nyata. Adegan-adegan sihirnya ditampilkan dengan humor tongue-in-cheek yang menyegarkan, seakan-akan tahu bahwa penonton harus banyak melakukan suspension of disbelief. Tapi Roth tidak pernah menahan diri untuk membuat sihir dan para pelakunya terlihat seabsurd mungkin. Black dan Blanchett dengan total melakukan gerakan sihir yang heboh dan berhasil menjualnya. Vaccaro pun dapat mengimbangi mereka dan, jujur saja, terlihat jauh lebih natural daripada aktor-aktor cilik Harry Potter di film sihir pertama mereka.

Lebih menyenangkan lagi adalah bagaimana Roth juga tidak segan menakut-nakuti penontonnya. Walaupun jelas ia membuat film untuk penonton berusia muda, ia tidak menganggap remeh penontonnya. Dengan memainkan suara jam, memasukkan sedikit jump scare di beberapa tempat, merancang kamar berisi boneka-boneka creepy dan menampilkan jajaran makhluk supernatural lainnya, film ini berpotensi membuat penonton dari segala kalangan menjerit. Dan semua itu ia lakukan dengan desain yang apik, visual yang menawan dan konstruksi adegan yang rapi.

Bahkan ceritanya pun bisa dikagumi. Tak disangka, The House with a Clock in Its Walls menampilkan kehangatan sebuah film keluarga lewat penampilan trio Black-Blacnhett-Vaccaro di tengah plot penuh action dan magic. Chemistry mereka yang kuat membuat kita semakin sayang pada tokoh-tokoh utama ini seiring berjalannya plot, yang juga mengandung twist tak terduga di babak ketiga yang mencengangkan di mana pengalaman Roth sebagai sutradara horor kembali berpengaruh.

Penonton dewasa yang sudah mengetahui reputasi Roth sebagai filmmaker horor mungkin akan segan membawa anak mereka menonton film ini. Tapi dengan kedewasaan dan kematangan yang ia tampilkan dalam meramu cerita sihir penuh kehangatan keluarga, baik orang tua maupun anak akan puas berkunjung ke The House with a Clock in Its Walls. Amanda Aayusya

Nutshell… Inilah ahli waris E.T. dan Gremlins yang sesungguhnya. Film terbaru Eli Roth ini punya tingkat thrill yang sama dengan film horor dewasa manapun dan bahkan lebih cerdas dari horor-horor lain yang sedang main di bioskop saat ini.

Rating PG Director Eli Roth Screenplay Eric Kripke Cast Jack Black, Cate Blanchett, Owen Vaccaro, Kyle Maclachlan, Reneé Elise Goldberry, Sunny Suljic Running time 104 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest