Home » Featured » The Night Eats the World – Review

The Night Eats the World – Review

Alone in the building

All Film Star Rating 7The-Night-Eats-the-World

Sam (Anders Danielsen Lie), seorang musisi yang tinggal di Paris, pergi ke apartemen mantan kekasihnya untuk mengambil kaset-kasetnya. Kebetulan mantan kekasihnya tersebut sedang menggelar sebuah pesta, sehingga Sam pun harus mengambil sendiri kaset-kasetnya di salah satu ruangan. Namun karena secara tak sengaja berbenturan dengan salah satu  pengunjung pesta, hidung Sam tiba-tiba mengeluarkan darah dan ia pun tertidur di ruangan tempat kasetnya tersimpan.

Sam baru terbangun besok paginya dan menemukan ada begitu banyak darah yang berceceran di dalam gedung apartemen tersebut. Saat mengintip ke luar gedung, ia melihat Paris yang sudah hancur dan semua orang telah berubah menjadi monster yang mengerikan. Setelah melihat semua itu, Sam memutuskan tetap tinggal di dalam gedung apartemen tersebut untuk bisa bertahan hidup.

Jika ada yang mengatakan kalau genre zombie sudah sangat membosankan, maka orang itu harus memikirkan kembali kata-katanya. Setelah One Cut of the Dead memberi penyegaran yang sangat kocak dan sungguh luar biasa, maka The Night Eats the World adalah sisi berlawanannya.

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pit Agarman, sutradara Dominique Rocher, yang juga menulis naskahnya bersama Jeremie Guez dan Guillaume Lemans, berusaha mengeksplorasi bagaimana kesendirian dan kesepian di tengah kehancuran peradaban dapat sangat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Memang sama sekali bukan ide yang baru, tapi film ini tetap dapat menyajikannya dengan atmosfer yang cukup membelenggu dengan temponya yang cenderung lambat, rasanya mental kita seperti ikut terusik saat menyaksikannya. Setiap sudut ruangan, terutama lorong-lorong sempit di dalam gedung apartemen dapat dimaksimalkan untuk memberi efek yang claustrophobic.

Rocher memberi porsi yang cukup sedikit untuk adegan kejar-kejaran dan action berdarah-darah. Tapi dari porsi yang sedikit itu, eksekusinya cukup memikat, tampilan zombie-nya menyeramkan, tim efek spesial dan make-up layak diberi pujian tersendiri dalam mewujudkannya, begitu juga dengan para aktor yang menghidupkannya, khususnya Denis Lavant sebagai salah satu zombie yang terjebak di sebuah elevator.

Pujian lain tentunya layak diberikan pada Lie yang harus berakting sendirian di sebagian besar durasi film. Performa solidnya membuat kita bisa ikut terbawa dalam perjalanan Sam menuju kehancuran secara mental. Di bagian-bagian awal, kita masih bisa menertawakan kelakuannya dalam mengisi waktu. Tapi saat depresi mulai mengganggunya, tersenyum saja menjadi sangat mulit.

Sayangnya Rocher sempat sedikit terasa kesulitan dengan tempo lambat yang digunakannya, sehingga cukup mengganggu alurnya. Di bagian pertengahan, film seperti tak bergerak ke mana-mana. Setelah sepanjang film dibuat penasaran dengan nasib Sam, harus diakui jika klimaksnya tak se-powerful seperti yang diharapkan. Krishna Mahendra

Nutshell The Night Eats the World tak menghadirkan banyak adegan kejar-kejaran dan action penuh darah. Dengan tempo lambat dan atmosfer membelenggu, film ini lebih mengeksplorasi terganggunya sisi psikologis seseorang akibat kesepian di tengah hancurnya peradaban.

Rating R Director Dominique Rocher Screenplay Jeremie Guez, Guillaume Lemans, Dominique Rocher Cast Anders Danielsen Lie, Golshifteh Farahani, Denis Lavant, Sigrid Bouaziz Running time 94 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest