Home » Featured » Train to Busan – Review

Train to Busan – Review

All Film Star Rating 8

36_SKS5997crop

Sebuah KTX (Korea Train eXpress) bergerak dari Stasiun Seoul menuju kota Busan persis saat seluruh Korea Selatan mulai dilanda kekacauan akibat mewabahnya virus yang mengubah orang-orang menjadi zombie. Setelah mendengar kabar jika Busan jadi satu-satunya kota yang masih berhasil menghalau serangan para zombie, para penumpang harus berjuang bertahan hidup untuk menempuh perjalanan sejauh 453 KM menuju Busan, termasuk menghadapi penumpang lainnya yang telah berubah menjadi zombie. Di antara para penumpang ada Seok-woo (Gong Yoo) yang sedang mengantar putrinya, Su-an (Kim Su-an), untuk bertemu sang ibu di Busan, Sang-hwa (Ma Dong-seok) dan istrinya, Sung-kyung (Jung Yu-mi), yang sedang mengandung, serta Jin-hee (Ahn So-hee) dan Young-guk (Choi Woo-sik) yang masing-masing merupakan anggota tim cheerleader dan baseball sekolahnya.

Meski baru memulai langkahnya dalam menggarap live action, setelah sebelumnya lebih dikenal dengan film-film animasi seperti The King of Pigs dan The Fake, sutradara Yeon Sang-ho berhasil mengeksekusi film ini dengan brilian. Action yang bertempo sangat tinggi disajikan dengan konsisten sepanjang film, begitu juga dengan ketegangannya yang terasa sangat intens.

TRAIN TO BUSAN_YEON SANG-HO_PHOTO4resize

Keadaan genting dan situasi hidup-mati yang dihadapi para karakternya terus datang bertubi-tubi, tapi tak sekalipun membuat film ini jadi membosankan. Semua itu berkat trik-trik cerdas yang dimainkan Sang-ho, sempitnya lorong kereta, hingga berbagai elemen kereta seperti pintu antar sambungan gerbong, toilet dan kompartemen dieksplorasi secara maksimal untuk meningkatkan tensi ketegangannya. Beberap aksi kejar-kejaran yang melibatkan zombie dalam jumlah massive juga ditampilkan dengan teknis memikat, terasa mendebarkan dan membuat kita seperti ada di tengah situasi tersebut. Divisi make-up juga telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam menciptakan zombie-nya yang menyeramkan, tapi tetap terlihat realistis karena tampilannya yang masih seperti manusia dan tidak memiliki luka berlebihan layaknya zombie-zombie di film lainnya. Dalam hal menghidupkan sang zombie, para aktor pembantu juga layak diberikan pujian tersendiri, mereka mampu memberikan detail gerakan yang beragam dan menganggu – dalam artian positif tentu saja.

Film produksi Korea memang sulit dilepaskan dengan elemen drama, begitu juga dengan film ini. Tapi rasanya drama yang ada di film ini masih terasa pas dengan ceritanya, sehingga masih bisa cukup dinikmati oleh mereka yang tak terlalu familiar dengan film Korea. Di beberapa bagian, elemen ini mampu membuat beberapa adegannya jadi lebih emosional dan dramatis. Sekali lagi, hal ini juga terbantu dengan ekseskusi Sang-ho yang memikat dari sisi teknis. Selain itu, para cast juga tampil dengan performa maksimal. Dong-seok dan Ju-mi punya chemistry kuat sebagai pasangan, sementara Yoo mampu menampilkan perubahan karakter, emosi dan hubungan dengan sang anak yang dinamis. Sang anak sendiri, Su-an, lagi-lagi menunjukkan potensinya sebagai calon aktris hebat di masa depan berkat kemahirannya dalam memainkan emosi karakternya. Krishna Mahendra

Nutshell Action bertempo tinggi! Eksekusi memikat Sang-ho dalam mengeksplorasi sempitnya lorong kereta dan berbagai ornamen di dalamnya berhasil meningkatkan tensi ketegangan. Elemen dramanya juga pas, mampu memberikan emosi tambahan di beberapa adegan.

Rating PG-13 Director Yeon Sang-ho Screenplay Park Joo-suk Cast Gong Yoo, Kim Su-an, Jung Yu-mi, Ma Dong-seok, Choi Woo-sik, Ahn So-hee Running time 118 mins

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest