Home » Featured » Venom – Review

Venom – Review

So many symbiotes, so little time

All Film Star Rating 7

venom-film-review

Venom mendapatkan kesempatan kedua. Setelah jadi ‘bintang tamu’ di Spider-Man 3 karya Sam Raimi di 2007, 2018 memberi Venom filmnya sendiri. Ruben Fleischer, sutradara Zombieland, memasang Tom Hardy sebagai lead dan ini – di atas segalanya – adalah keputusan casting yang tepat.

Memerankan Eddie Brock, jurnalis broadcast yang kariernya hancur karena ia berani mempertanyakan kematian yang terkait dengan eksperimen berbahaya yang dilakukan Life Foundation milik Carlton Drake (Riz Ahmed), Hardy mampu memainkan sosok seorang loser tanpa membuatnya jadi menyebalkan. Mantan tunangannya, Annie (Michelle Williams), menuduhnya egois dan ini benar. Tapi egoisme Brock milik Hardy sepertinya datang dari kepedulian. Interaksinya dengan para tetangga di sekitarnya menampilkan figur yang menyebalkan tapi bisa disayangi. Sangat penting kita melihat latar belakang dan pembangunan karakter Eddie Brock di awal karena ketika ia akhirnya menemukan bukti dari eksperimen mematikan yang dilakukan Drake, pekerjaan Hardy jadi lebih sulit.

Bisa ditebak apa yang terjadi. Eddie datang ke lab miik Drake atas permintaan Dr. Dora Skirth (Jenny Slate) yang tidak setuju dengan perbuatan bosnya. Ia memotret eksperimen Drake dengan organisme alien yang disebut symbiote, yang Drake ingin agar bisa disatukan dengan tubuh manusia sebagai host. Tujuan Drake sebenarnya absurd: ia ingin agar manusia dan symbiote bisa bergabung supaya manusia bisa hidup di planet lain dan meninggalkan Bumi yang dianggapnya sudah terlalu rusak. Eddie, yang sudah tahu betapa gilanya Drake sejak awal, kemudian berusaha membebaskan subjek eksperimen itu. Tak pelak, symbiote yang kemudian kita ketahui bernama Venom itu masuk ke badan Eddie.

Di sinilah Venom bersinar: saat Eddie dan symbiote-nya mulai berinteraksi dengan satu sama lain. Jika sebuah film body horror diberi banyak bumbu komedi, Venom lah hasilnya. Dialog antara Eddie dan Venom – yang juga disuarakan oleh Hardy – mengalahkan dialog film buddy cop manapun. Tidak semuanya terdengar cerdas, tapi ada lebih daripada “turd in the wind” di dalam interaksi mereka. Sangat menarik juga melihat bagaimana Hardy tak hanya berakting dengan wajah dan kata-kata tapi seluruh badannya yang tak pernah berhenti bergerak sejak Eddie menyatu dengan Venom.

Satu adegan yang cukup memorable menaruh Eddie dan Venom saling berhadapan, menatap wajah satu sama lain. Walaupun sama-sama diperankan oleh Hardy, kita jelas bisa melihat ada dua karakter yang berbeda, yang merupakan individu yang terpisah, yang sedang berkomunikasi. Inilah mengapa tanpa kehadiran Spider-Man sekalipun, Venom bisa menjadi film yang berdiri sendiri dengan solid.

Sisanya, kau bisa abaikan. Plot filmnya memang tidak kompleks dan straightforward tapi juga tidak spesial. Supporting cast-nya pun tidak terlalu menonjol; peran Williams dan Slate terlalu kecil untuk bisa benar-benar berpengaruh pada filmnya. Ahmed, sebagai villain utama, masih lebih menonjol dibandingkan yang lainnya. Tapi walaupun ia mampu tampil creepy dan tidak stabil, plot yang simplistis itu tadi agak mengurangi dampak Drake sebagai antagonis utama. Lebih seru melihat symbiote yang menyatu dengan Drake, Riot, yang bahkan lebih kuat daripada Venom. Dan untungnya, ketika Venom dan Riot akhirnya bertemu dan bertarung, klimaks film menjadi tontonan yang spektakuler.

Tidak ada yang mengharapkan Venom untuk menjadi Captain America: The Winter Soldier. Tapi symbiote anti-hero ini patut dapat kesempatan kedua setelah Spider-Man 3 dan Venom tidak menyia-nyiakannya. Walaupun tidak sempurna, Venom bisa unjuk gigi, lidah, dan keganasannya dengan total. Amanda Aayusya

Nutshell… Ambil popcorn, duduk santai dan nikmati Venom. Ini adalah film untuk penggemar Tom Hardy dan pencinta action yang tidak mewajibkan siapapun untuk berpikir dalam.

Rating PG-13 Director Ruben Fleischer Screenplay Scott Rosenberg, Jeff Pinkner, Kelly Marcel, Will Beall Cast Tom Hardy, Michelle Williams, Riz Ahmed, Jenny Slate, Scott Haze, Reid Scott, Ron Cephas Jones

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest